Rendah Hati: Antara Karakter dan Sikap

(telah diterbitkan di Warta PAK FMIPA Medan edisi September 2009)

Kerendah-hatian adalah sebuah karakter (sifat) sekaligus sebuah sikap (perilaku). Ia disebut sifat karena ia berada di wilayah pikiran dan hati yang berperan besar dalam menghasilkan perilaku manusia. Ia disebut perilaku karena ia harus terwujud dalam perilaku-perilaku tertentu yang oleh khalayak umum dikenal sebagai tanda-tanda kerendah-hatian. Kerendah-hatian sejati muncul apabila keduanya menyatu dan saling melengkapi seperti 2 sisi pada satu koin. Kita tidak dapat mengatakan seseorang itu rendah hati apabila kita tidak melihat perilaku-perilaku rendah hati dalam hidupnya. Sebaliknya, kita juga tidak serta merta dapat menyimpulkan bahwa seseorang itu rendah hati melalui perilaku-perilakunya karena ada kemungkinan sikap atau perilakunya itu adalah suatu rekayasa dan bukan merupakan dorongan alamiah dari hatinya.

Saya mencoba mencari kata “rendah hati” dalam Alkitab dan dengan bantuan aplikasi Alkitab saya menemukan 22 ayat dalam PL dan PB yang memakai kata itu. Selanjutnya juga ditampilkan 5 ayat yang menggunakan “kerendahan hati”, 2 ayat yang menggunakan “merendahkan hati” dan 38 ayat yang menggunakan “merendahkan diri”.

Alkitab berbahasa Inggeris (versi King James) menggunakan beberapa istilah untuk kata “rendah hati”, yaitu meek (meekness), lowly (lowliness), humble (humility), afflict, cast down, dan courteous. Kata-kata yang paling sering dipakai adalah meek, humble dan lowly sedangkan yang lainnya hanya sesekali digunakan.

Merriam-Webster Online Dictionary menterjemahkan meek sebagai mengalami luka dengan kesabaran dan tanpa rasa pedih di hati; humble diartikan sebagai tidak merasa terhormat, tidak sombong dan tidak arogan; lowly adalah berada dalam sikap humble dan meek. Lebih lanjut tentang kata humility, disebutkan bahwa kata itu berasal dari bahasa Latin “humilitas“, sebuah kata benda yang berhubungan dengan kata sifat “humilis“, yang diterjemahkan tidak hanya sebagai “humble“, tetapi juga sebagai “rendah”, “berasal dari bumi” dan “tidak dihormati”.

Beberapa pengertian di atas tidak langsung membuat kita mampu memahami makna sikap rendah hati. Ini tidak mengherankan karena memang arti sebuah kata berbeda dengan makna kata itu. Arti adalah tentang harfiah dan mengacu kepada referensi yang digunakan, sedangkan makna lebih merupakan tentang pemahaman kita berdasarkan nilai-nilai dan keyakinan yang telah kita miliki. Oleh karena itu pemahaman orang atas “rendah hati” bisa berbeda-beda sebab banyak sekali nilai-nilai dan keyakinan yang ada di masyarakat saat ini. Bahkan, dalam diri sesama orang Kristen sendiripun, makna “rendah hati” bisa tidak sama karena kemungkinan adanya nilai-nilai lain di samping nilai-nilai Firman Tuhan dalam diri mereka.

Di tengah jaman yang penuh kompetisi seperti sekarang ini, sangatlah sulit untuk menemukan orang yang rendah hati. Bahkan, mungkin telah ada keraguan (kalau bukan keyakinan) bagi sebagian orang bahwa kerendah-hatian sudah tidak relevan lagi pada jaman ini karena dianggap sebagai penghalang keberhasilan, sehingga “rendah hati” mulai ditinggalkan oleh mereka. Keinginan sebagian besar orang untuk “menjadi seseorang” (to become someone) dan penolakan untuk menjadi “bukan siapa-siapa” diduga menjadi penyebabnya. Ada dorongan yang sangat kuat dalam diri setiap orang untuk menjadi penting, menjadi berarti dan mendapat pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Akibatnya, terjadi persaingan yang sangat ketat untuk menjadi penting dan berarti itu.

Situasi bersaing inilah yang menurut Paul T. P. Wong, Ph.D., C. Psych. President, International Network on Personal Meaning Coquitlam, B.C., Canada, dalam sebuah esainya sebagai penyebab orang tidak menyukai dan sulit memahami makna sebenarnya dari kerendah-hatian. Persaingan ini mendorong orang berlomba-lomba untuk menjadi yang utama, dan bersamaan dengan itu, berlomba-lomba pula mencegah orang lain menjadi yang utama. Semua orang ingin menjadi nomor satu. Keadaan ini berbeda sekali dengan arti dan makna rendah hati sebagaimana diulas di atas: rendah hati dimaknai sebagai kerelaan untuk menjadikan diri rendah, tidak dihormati dan “bukan siapa-siapa”.

Pandangan Kristen tentang kerendah-hatian sudah sangat jelas. Yang menjadi dasar sikap rendah hati dalam pandangan Kristen adalah diri Kristus sendiri, mulai dari kerendahan dalam kelahiranNya di kandang domba, kerendahan dalam sikap sehari-hari di masa hidupNya hingga kerendahan dalam pengorbananNya di Kayu Salib. Kerendahan hati Kristiani juga bersifat paradoks sebagaimana Kristus katakan: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23: 11-12). Yakobus menegaskan ini dalam Yak 4: 10: “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu”.

Perhatikan bahwa dalam kutipan nats firman Tuhan di atas, Alkitab sesungguhnya mengakui adanya keinginan alamiah manusia untuk menjadi yang utama, untuk menjadi “seseorang” dan untuk menjadi berarti dan penting. Hanya memang, untuk mencapainya Alkitab menawarkan cara yang tidak populer, yaitu dengan cara merendahkan diri dan mengosongkan diri; sedangkan dunia menawarkan cara-cara keangkuhan yang sering kali dibungkus dengan istilah-istilah indah seperti aktualisasi diri, penemuan jati diri, optimalisasi diri, meraih impian, menjadi berarti, dll.

Menarik untuk diperhatikan bahwa sebagaimana disebutkan di atas kata “merendahkan diri” digunakan sebanyak 38 kali dalam Alkitab dan menjadi yang paling banyak di antara kata-kata senada yang lain. Kalau disimak secara lebih dalam, pemakaian kata “merendahkan diri” dalam berbagai kutipan di atas, maka pemakaian kata itu menyiratkan beberapa pengertian. Pertama, manusia secara naluri (alami) memang cenderung untuk meninggikan diri; meninggikan diri adalah manusiawi. Kedua, naluri meninggikan diri itu tidak baik, sehingga Tuhan perlu perintahkan manusia untuk menjauhinya dan selanjutnya memerintahkan manusia untuk beralih kepada sesuatu yang baik, yaitu merendahkan diri. Ketiga, merendahkan diri itu bersifat aktif dan bukan pasif. Artinya, kita diminta untuk dengan sadar merendahkan diri, dengan sadar mengerahkan daya dan upaya untuk membuat diri kita menjadi rendah.

Hal lain yang menarik adalah bahwa menurut Alkitab ada beberapa upah atau ganjaran yang akan kita peroleh jika kita rendah hati atau merendahkan diri, yaitu: makan dan kenyang (Maz 22:26), jalannya dibimbing Tuhan (Maz 25:9), bersukacita (Maz 69:32), mewarisi negeri dan kesejahteraannya berlimpah-limpah (maz 37:11), dimahkotai dengan keselamatan (Maz 149: 4), dikasihani Tuhan (Ams 3:34), memiliki hikmat (Ams 11:2), menerima pujian (Amsal 29:23), semangatnya dihidupkan oleh Tuhan (Yes 57:15), terlindung pada hari kemurkaan Tuhan (Zef 2:3), dibiarkan hidup (Zef 3:12), dihibur Tuhan (2 Kor 7:6), diganjar dengan kekayaan, kehormatan dan kehidupan (Ams 22:4).

Saya terkejut sekali dengan bacaan Firman Tuhan ini. Semua ganjaran sikap rendah hati di atas ternyata adalah hal-hal yang menjadi tujuan hidup manusia pada umumnya. Coba perhatikan sekali lagi satu persatu ganjaran atau upah itu. Bukanlah hal-hal itulah yang kita cari dalam hidup ini? Betapa “sederhana” ternyata rahasia memperoleh kebahagiaan. Hanya dengan bersikap rendah hati dan merendahkan diri di hadapan Tuhan, semua itu bisa kita dapatkan sebagai upah dari Bapa di Sorga.

Sekarang, bagaimana cara untuk menjadi rendah hati? Kita semua sedang belajar untuk itu. Perenungan yang terus-menerus akan anugerah keselamatan yang sudah Bapa berikan melalui Yesus Kristus kepada kita seharusnya bisa menjadi alasan yang kuat sekali untuk kita menjadi rendah hati: kita “bukan siapa-siapa” tetapi kita diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Kesadaran ini seharusnya membuat kita tak henti-hentinya bersyukur dan tak bosan-bosannya merendahkan diri. Selama kita masih memiliki keyakinan bahwa menjadi yang utama di antara orang lain adalah tujuan hidup kita, maka selama itu juga kita akan gagal menjadi rendah hati.

Memang, banyak sekali sikap dan tindakan yang dapat dikategorikan sebagi sikap rendah hati. Tetapi bagi saya, mendaftarkan sikap-sikap itu dan memasukkannya dalam “Daftar Untuk Dikerjakan” adalah kurang tepat karena itu menyebabkan kita tidak “hidup” dalam melakukannya; dan pelaksanaannyapun akan bersifat sementara saja. Pemeliharaan dan penguatan sifat rendah hati di dalam pikiran dan hatilah yang jauh lebih penting. Jika sifat itu tumbuh dengan baik dalam diri seseorang, maka ia akan memahami mengapa daftar itu ada dan dengan sendirinya akan dapat menambahkan sikap-sikap lain ke dalam daftar itu; dan, pelaksanaannyapun akan bersifat permanen. Namun demikian, tidak ada salahnya jika kita coba melihat beberapa sikap yang baik untuk dilatih sambil kita terus berjuang merendahkan diri di dalam pikiran dan hati.

Wong berpandangan bahwa ada 2 pendekatan yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan dan memelihara kerendah-hatian yaitu pendekatan makro dan pendekatan mikro. Pada tingkat makro, kita perlu memegang teguh keyakinan iman kita melalui beberapa sikap berikut:

  • Kesadaran diri bahwa kita pasti mati
  • Kepercayaan akan kehidup setelah kematian
  • Menyadari bahwa kita tidak sempurna dan melakukan keasalahan
  • Menyadari kebutuhan untuk dipulihkan dan disucikan
  • Menyadari kebutuhan pertolongan dan tuntunan
  • Percaya kepada kuasa roh
  • Percaya akan kebutuhan tunduk kepada kekuatan yang lebih tinggi

Pada tingkat mikro, kita perlu mengembangkan kebiasaan sikap kerendah-hatian dalam keseharian kita. Ini meliputi beberapa latihan berikut:

  • Mengakui kesalahan
  • Menerima perbaikan dan umpan balik dengan hati lapang
  • Menghindari mengkritik orang lain
  • Memaafkan orang yang bersalah
  • Meminta maaf kepada orang lain jika kita bersalah
  • Menanggung ketidakadilan dengan kesabaran dan semangat mengampuni
  • Memikirkan dan membicarakan hal-hal yang baik tentang orang lain
  • Bersukacita atas keberhasilan orang lain
  • Menghitung berkat-berkat yang diterima, baik atau buruk
  • Selalu mencari kesempatan untuk melayani orang lain
  • Rela untuk tetap tidak diingat ketika menolong orang lain
  • Menunjukkan rasa syukur kasih atas keberhasilan yang dicapai
  • Memberikan pujian kepada orang lain yang berperan dalam keberhasilan kita
  • Menganggap keberhasilan sebagai sebuah tanggung jawab untuk melakukan lebih lagi kepada orang lain
  • Bersedia belajar dari kegagalan
  • Mengambil tanggunjawab atas kegagalan yang terjadi
  • Menerima keterbatasan dan lingkungan kita
  • Menerima kenyataan sosial bahwa ada diskriminasi dan ketidakadilan
  • Memperlakukan orang lain dengan rasa hormat tidak peduli status sosialnya
  • Menikmati status rendah menjadi orang luar dan bukan siapa-siapa

Daftar yang banyak itu mengarah ke satu prinsip dasar saja, yaitu bahwa rendah hati adalah tentang mengutamakan orang lain dan menempatkan diri sendiri di posisi yang lebih rendah daripada orang lain. Rendah hati adalah tentang menjadi pelayan orang lain dan “mengosongkan” diri sendiri dan menjadi “bukan siapa-siapa”.

Menjadi rendah hati adalah perjuangan seumur hidup. Namun kita tidak perlu khawatir karena kita mempunyai Tuhan yang rendah hati dan yang berjanji menolong kita menjadi rendah hati seperti Dia. Akhirnya, dengan meminjam istilah Wong, untuk berhadapan dengan kompetisi dunia yang selalu menggoda kita untuk meninggikan diri, mungkin akan menolong jika kita mencoba merenungkan kalimat indah ini setiap hari: I am glad that I am nobody!

6 comments

  1. love this so much…terimakasih sudah menuliskan ini..

  2. Bagai mana kalau salah 1/2/3…..dari kreteria tersebut ada dalam diri kita, apakah bisa dikatakan orang sudah memiliki sifat humble ? kalau semua sempurna amat orang tersebut…..!

  3. growtopias · ·

    Very Helpfull

  4. Anastacia W · ·

    Saudara Asken Sinaga yth, saya membaca artikel ini hari ini, tujuh tahun setelah di upload, tetapi tentu saja ini adalah topik yang relevan sampai kapanpun.
    Terimakasih sudah menulis artikel yang indah ini, saya saved dalam file agar saya bisa mengingatkan diri sendiri untuk senantiasa tetap rendah hati, sesuatu yang harus saya pelajari dan lakukan terus menerus.

    Tuhan Yesus memberkati

  5. Sungguh luar biasa , tulisan ini menolong saya yg menyadari untuk rendah hati dan saya sangat malu dan menyesal di hadapan Tuhan atas sikap sy yg tdk rendah hati. Tuhan Yesus yg memiliki segalanya saja bersikap rendah hati….dan sy yg bukan siapa2 tdk bersikap rendah hati. Kiranya Tuhan menolong saya utk menjadi rendah hati . Terimakasih untuk tulisannya Tuhan Yesus memberkati

  6. Terima kasih buat tulisannya ini sangat membantu saya dalam keseharian saya, ternyata yang saya cari selama ini bisa saya dapatkan dengan rendah hati dan takut akan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: