PEDULI BANGSA DAN NEGARA: Sebuah ukuran kedewasaan rohani

(Telah diterbitkan di Warta PAK FMIPA Medan)

Dalam teori dua kerajaannya, Marthin Luther menggambarkan bahwa negara dan gereja memiliki kewenangan yang berbeda. Negara mempunyai wewenang dalam hal kesejahteraan, sedangkan gereja mempunyai wewenang dalam hal kerohanian. Gereja tidak boleh melawan pemerintah, kecuali negara mencampuri urusan gereja dalam wewenang kerohanian. Gereja dapat melawan negara demi ketaatan pada Allah apabila negara bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan kewajibannya. Peran sosial gereja kurang ditekankan dalam pandangan Luther, bahkan hubungan antara negara dan gereja cenderung dipisahkan secara total. Akibatnya, gereja menjadi pasif dan tidak peduli dengan hal-hal dunia yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya juga.

Menurut Calvin negara ada karena manusia telah jatuh ke dalam dosa. Namun, walaupun Calvin melihat negara secara negatif, ia percaya bahwa negara diperlukan agar tatanan kehidupan menjadi teratur dan lebih baik. Berbeda dengan Luther, Calvin berpendapat bahwa apabila negara menyalahgunakan kekuasaannya, baik dalam hal kerohanian maupun dunia, rakyat boleh melawannya. Jadi, Calvin tidak memisahkan negara dengan agama secara total; ia mengakui pemisahan tetapi tidak ada keterpisahan. Pandangan Calvin ini didasarkan pada pemahaman bahwa gereja dan negara memperoleh wewenangnya dari Allah yang satu, bagi dunia yang satu dan kemanusiaan yang satu. Pemerintahan sipil dibutuhkan karena dosa masih merajalela. Negara ada karena manusia cenderung berbuat kejahatan; bahkan di dalam masyarakat Kristen sendiri banyak orang yang tidak menjadi Kristen yang sejati.

Pandangan Calvin umumnya lebih diterima oleh kalangan Kristen secara umum termasuk oleh pelayanan mahasiswa dan alumni (termasuk oleh pelayanan yang kita miliki di FMIPA). Salah satu misi dari pelayanan mahasiswa adalah agar alumni yang dihasilkan menjadi garam dan terang bagi bangsa dan negara.

Kita layak bersyukur karena sejauh ini kita bisa melihat dan mendengar bagaimana alumni telah memberi dampak positif di berbagai bidang kehidupan di negara Indonesia. Namun, kita juga harus bersedih sebab masih sangat sering kita melihat dan mendengar bahwa alumni tidak berbuat sebagaimana yang diharapkan meskipun mereka memiliki kesempatan dan pengaruh untuk melakukan suatu perubahan.

Binsar A. Hutabarat dalam tulisannya di Jurnal Teologi Stulos berjudul Negara Menurut Perjanjian Lama menyimpulkan bahwa hal yang menghambat aktivitas orang Kristen dalam negara adalah adanya penekanan yang terlalu berlebihan mengenai kewarganegaraan surga. Tidak sedikit orang Kristen yang berpikir bahwa karena mereka bukan warga negara dunia tetapi warga negara surga, maka mereka tidak perlu menghabiskan waktu untuk memberikan kontribusi positif pada negara. Sekedar menjadi warga negara yang baik saja sudahlah cukup. Orang Kristen bahkan banyak yang merasa tabu untuk turut serta dalam pembangunan negara secara khusus dalam politik praktis. Bagi mereka politik sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tanpa moral.

Pendapat Hutabarat ini bisa jadi benar untuk beberapa kalangan, tetapi saya tidak yakin kalau ini jugalah yang menjadi penyebab kurangnya partisipasi alumni Kristen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengalaman merasakan pelayanan sejak mahasiswa hingga menjadi alumni serta pengamatan terhadap program-program pembinaan yang ada saat ini di persekutuan-persekutuan mahasiswa dan alumni, membuat saya meragukan pendapat itu.  Keseimbangan pengajaran tentang perkara dunia dan rohani saya rasakan sudah sangat baik, termasuk dalam hal peranan orang Kristen (gereja) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengajaran bahwa kita adalah warga surga (people of the Kingdom) yang ada dunia untuk menghadirkan kerjaan surga di dunia melalui berbagai aspek kehidupan, menurut hemat saya adalah thema utama program pelayanan mahasiswa dan alumni sejak dulu, sekarang dan di masa yang akan datang.

Beberapa tahun yang lalu, sewaktu masih menjadi pengurus Persekutuan Alumni Kristen (PAK) Perkantas Medan, saya berkesempatan melakukan berbagai pertemuan dengan beberapa persekutuan alumni yang ada di kota Medan. Tujuannya adalah untuk saling berbagi rencana program dan sekiranya mungkin untuk menyelaraskan program-program sehingga tidak saling tumpang tindih, sebaliknya agar diperoleh program-program yang saling menguatkan sehingga kekuatan pelayanan menjadi lebih besar akibat adanya sinergi. Dari komunikasi yang ada saya menemukan bahwa pada dasarnya semua PAK memiliki misi yang sama yaitu untuk menghasilkan alumni yag menjadi berkat (garam dan terang) bagi pekerjaan, keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara dan dunia. Tujuan ini malahan secara tegas tertulis dalam pernyataan visi, misi atau anggaran dasar organisasi. Yang menarik adalah bahwa kalimat atau pernyataan visi dan misi dari beberapa persekutuan itu selalu memiliki urutan atau pola yang sama, yaitu menjadi garam dan terang bagi pekerjaan, keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara (serta dunia).

Keunikan urutan ini semakin menarik karena pengalaman dan pengamatan saya menunjukkan bahwa alumni Kristen menghadapai pergumulan di semua aspek itu dan kelihatannya urutan itu mewakili “anak tangga” pergumulan sekaligus mewakili urutan prioritas bagi alumni: pertama pekerjaan, dilanjutkan dengan keluarga, lalu gereja, kemudian masyarakat, lebih lanjut bangsa dan negara (dan akhirnya dunia). Dengan kata lain, perjuangan untuk menjadi berkat di keluarga akan dimulai apabila alumni telah terlebih dulu berhasil dalam pergumulan pekerjaannya. Seterusnya, perjuangan untuk menjadi berkat di masyarakat cenderung akan dimulai setelah alumni berhasil dalam pergumulan pernikahan dan keluarga serta pekerjaan. Dengan cara berpikir yang sama, maka secara sadar atau tidak, alumni baru akan bertindak bagi bangsa dan negara apabila telah merasa berhasil dalam pekerjaan, keluarga, gereja, dan masyarakat. Cara berpikir demikian akhirnya membawa kita kepada sebuah anggapan bahwa mengambil bagian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah sebuah tahap lanjut dari pertumbuhan kerohanian seseorang.

Penjelasan ini lebih dapat diterima daripada alasan Hutabarat atas kurangnya partisipasi alumni untuk negara ini. Alumni cenderung memusatkan segala sumber dayanya untuk perkara-perkara yang berhubungan dengan diri sendiri (internal), seperti untuk pekerjaan dan karir serta perkawinan dan keluarga. Aspek internal ini telah menyita sumber daya alumni setinggi-tingginya sehingga sangat sedikit, bahkan mungkin tidak ada lagi, yang tersisa untuk digunakan bagi perkara-perkara di luar diri sendiri (eksternal), seperti gereja, masyarakat apalagi bangsa dan negara. Coba perhatikan topik-topik pembicaraan yang paling sering dibicarakan oleh pada kesempatan bertemu di KTB (kelompok Tumbuh Bersama), persekutuan, atau berbagai kesempatan lain. Biasanya topiknya berkisar pergumulan pekerjaan/bisnis, teman hidup/pasangan dan keluarga. Coba perhatikan juga catatan pokok-pokok doa; biasanya cakupannya juga sempit, yaitu tentang kesehatan, pekerjaan/bisnis, rencana sekolah anak, belum punya rumah/rencana beli rumah, kebutuhan mobil/rencana beli mobil, rencana pindah kerja, orangtua/mertua, pendidikan dan biaya sekolah anak, tabungan hari tua, dll. Pembicaraan tentang gereja, masyarakat, bangsa dan negara bisanya hanya ada di acara-acara khusus seperti seminar-seminar, retret-retret dan kamp-kamp pembinaan. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua itu merupakan tanda-tanda negatif kerohanian dan bahwa itu semua tidak perlu. Yang ingin saya utarakan adalah bahwa itulah cakupan pergumulan alumni pada umumnya. Meminjam istilah Steven R. Covey dalam bukunya Tujuh Kebiasaan Manusia yang Paling Efektif, semua itu menunjukkan bahwa lingkaran kepedulian alumni masih kecil. Lingkaran kepeduliannya masih seputar hal-hal internal dan belum meluap kepada hal-hal eksternal.

Tanpa maksud menyederhanakan dan menyamaratakan keadaan, saya memberanikan diri mengatakan bahwa rendahnya peranan kita dalam berbangsa dan bernegara adalah karena rendahnya kepedulian kita terhadap situasi bangsa dan negara kita. Untuk mengerti tentang makna kepedulian ini, saya ingin menyampaikan secara singkat beberapa hal tentang kepedulian sehingga maknanya dapat kita renungkan dengan baik. Pertama, kepedulian berbanding lurus dengan tindakan. Semakin besar kepedulian kita terhadap sesuatu, semakin besar pula tindakan kita untuk sesuatu itu. Sebaliknya, semakin rendah kepedulian kita, semakin kecil tindakan kita. Kita tidak akan berbuat apa-apa bagi negara kalau kepedulian kita terhadap isu-isu bernegara tidak ada. Kedua, kepedulian lebih merupakan perkara perasaan daripada pengetahuan.  Pengetahuan akan sesuatu tidak cukup kuat untuk melahirkan kepedulian terhadap sesuatu itu, tetapi kepedulian dipastikan muncul bila sesuatu itu telah memasuki wilayah perasaan seseorang seperti cinta, kasihan, sedih, prihatin, dll. Namun demikian, haruslah tetap diingat bahwa pengetahuan adalah prasyarat timbulnya perasaan. Tidak ada perasaan yang muncul tanpa didahului oleh sebuah pengetahuan. Semakin kuat perasaan kita terhadap seseorang, misalnya cinta, semakin peduli kita terhadap seseorang itu. Dengan cara yang sama, semakin kita sedih dan prihatin atas keadaan masyarakat Indonesia, semakin kita peduli terhadap mereka. Ketiga, kepedulian adalah tentang ego (kepentingan diri sendiri). Kita menjadi peduli jika sesuatu itu memiliki kepentingan atau keterkaitan dengan diri kita. Semakin besar keterkaitannya dengan diri kita, semakin peduli kita. Kita mungkin akan lebih peduli dengan PHK di kantor jika kita termasuk di dalam daftar orang yang akan di-PHK dibandingkan jika kita tidak termasuk di dalam daftar itu. Sebagai kesimpulan, kepedulian seseorang terhadap sesuatu akan muncul bila seseorang itu mengetahui, merasakan (perasaannya tersentuh) dan menjadi terkait secara pribadi dengan sesuatu itu.

Berdasarkan pemahaman itu, kita dapat mengetahui apa sebenarnya yang menjadi kepedulian seseorang melalui pilihan-pilihan tindakannya. Kalau seseorang menghabiskan banyak waktunya untuk pekerjaan/bisnis, maka sebenarnya dia sangat peduli dengan pekerjaannya. Surat-surat Paulus yang begitu banyak kepada berbagai jemaat menunjukkan bahwa dia sangat peduli dengan mereka. Jadi, apa yang paling banyak/sungguh-sungguh kita lakukan, menunjukkan apa sebenarnya yang menjadi kepedulian kita. Kalau kita coba jujur pada diri sendiri, sebagai orang berpendidikan tinggi dan telah dipilih Tuhan untuk diselamatkan, kita seharusnya merasa malu karena lingkaran kepedulian kita masih persis sama dengan orang pada umumnya, yaitu sekedar memikirkan pekerjaan/bisnis, keluarga, pendidikan anak, investasi hari tua, dll yang bersifat internal. Cara (dan motivasi) melakukannya mungkin berbeda dengan orang yang belum mengenal Tuhan, namun cakupan kepeduliannya setali tiga uang! Kalau Tuhan menciptakan kita hanya untuk meraih tujuan internal dan duniawi seperti itu, masak sih Dia sampai mau mengorbankan Yesus untuk kita. Pastilah ada hal besar yang Dia ingin kita kerjakan melalui pemilihan dan penebusanNya. Hal besar itu sudah kita ketahui bersama, yaitu untuk menjadi perpanjangan-tanganNya dan menghadirkan kerajaan Allah di negara ini.

Meningkatkan kepedulian sebenarnya tidak terlalu sulit. Perbanyaklah pengetahuan tentang situasi yang ada di negara ini melalui baca, lihat dan dengar. Kemudian, libatkan perasaan kita terhadap informasi itu. Tahap ini yang menurut saya paling penting dan paling sulit dilakukan. Namun, dengan sedikit kreatifitas, kita bisa merasakan situasi itu. Caranya adalah dengan melakukan praktek lapangan. Ketika saya membaca koran dan mendengar bahwa ada banyak barak pengungsian di Aceh saat bencana tsunami dulu, saya menjadi tahu tetapi perasaan saya belum banyak tersentuh. Ketika berkesempatan datang ke Aceh dan melihat barak-barak pengungsian yang berukuran 3 x 4 m itu, hati sayapun tersentuh. Ketika saya masuk ke dalam barak itu dan melihat 5 – 6 orang duduk dan berbaring di lantai papan dengan wajah sedih, pakaian dan perabotan berserakan, hati saya terenyuh. Ketika saya melihat siswa SD di sebuah pulau kecil di Maluku Utara, pulau yang ditempuh 10 jam perjalanan laut dari Ternate, pergi berjalan kaki ke sekolah dengan jarak 2-3 km, hati saya sedih. Ketika saya memasuki tempat pangkas rambut pinggir jalan di sekitar Pasar Mampang, Jakarta Selatan, dan menemukan antrian gepeng dan anak jalanan yang dibawa oleh ‘pimpinannya’, seorang pria berumur 30-an, untuk dipotong rambutnya, saya marah kepada pemerintah, kecewa kepada ‘pimpinan’ itu dan kasihan kepada anak-anak jalanan itu. Dengan cara itu saya membawa pengetahuan saya ke wilayah perasaan dan berusaha membuat diri terkait dengan situasi itu. Akibatnya adalah saya bertindak sesuai dengan kapasitas saya. Beberapa teman kita bertindak dengan menulis di koran dan majalah, sebagian melakukan unjuk rasa, sebagian membongkar praktek-praktek dosa dalam birokrasi dan sistem pendidikan, sebagian mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, sebagian menjadi guru di desa terpencil, dll. Mereka semua telah berhasil merasakan dan mengaitkan diri mereka dengan berbagai situasi memprihatinkan di negara ini. Beberapa kisah teman-teman di daerah terpencil membuktikan hal yang sama: mereka tersentuh hatinya dengan belas kasihan oleh karena mereka berada di lapangan. Semakin mereka terlibat di daerah itu, semakin mereka ingin menetap dan berbuat di sana. Semakin dalam kita ‘menyelam’ dalam situasi nyata di lapangan, semakin ‘basah’ perasaan kita.

Langkah praktis sederhana yang dapat kita lakukan adalah dengan melakukan ‘wisata perasaan’ di akhir pekan khususnya bagi alumni yang kesehariannya tidak berkesempatan melihat kondisi seperi itu. Gantikan saja rencana liburan ke puncak menjadi kunjungan ke tempat kumuh di kota kita, lihat dan masuki gubuk mereka serta dengarkan suara hati. Gantikan rencana ke pantai menjadi kunjungan ke desa miskin terpencil dan cobalah menginap di rumah kaum miskin itu. Hati kita akan dibuat menangis dan kita akan terus gelisah kalau kita tidak berbuat sesuatu. Melalui wisata ini hati kita pasti disegarkan. Kesegaran yang kita rasakan akan jauh lebih baik dibandingkan kesegaran yang kita harapkan ada ketika melakukan jalan-jalan konvensional yang biasa dilakukan banyak orang ke tempat-tempat wisata.

Akhirnya, jangan biarkan kepedulian saja yang semakin besar. Kepedulian yang besar masih akan sia-sia kalau kita tidak memiliki kekuatan untuk mempengaruhi sesuatu. Kekuatan ini menurut Covey disebut dengan lingkaran pengaruh. Kita mungkin tahu ada banyak alumni yang memiliki kepedulian besar terhadap sesuatu, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka tidak memiliki pengaruh di wilayah itu. Oleh karena itu, sangat dianjurkan kita memperluas pengaruh kita dengan cara mengembangkan diri. Investasi waktu, dana dan daya untuk mengembangkan diri tidak akan percuma. Bertekunlah dalam pekerjaan agar suatu saat dipercaya menjabat posisi pengambil keputusan. Sementara itu, dalam keadaan sekarang ini, pergunakan pengaruh yang ada untuk mempengaruhi situasi sekitar kita. Partisipasi sekecil apapun dibutuhkan oleh negara kita saat ini dan pasti berkenan di hati Tuhan kita. Kitab Pengkhotbah mengatakan tali tiga lembar tidak mudah diputuskan. Kerjasama dan membangun jaringan dengan alumni lain akan memperluas pengaruh kita. Pengaruh pribadi yang kecil, jika digabungkan dengan pengaruh alumni lain akan menghasilkan pengaruh yang besar yang mampu mengubah Indonesia.

One comment

  1. Irbawati saragih · ·

    Sangat kagum dengan tulisan ini, benar sekali kepedulian terhadap sesama ciptaanNya perlu dinyatakan dalam perbuatan yg sangat berguna bagi mereka, kerinduan saya bagaimana kaumku dapat sungguh percaya kepada Tuhan dengan menyebarkan Injil, berdoa selalu agar Tuhan juga mengizinkan hidupku bisa memberi sekecil apapun thdp sesama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: