KAU TIDAK SENDIRI

Barangkali kita sudah sering mengucapkan atau mendengar kalimat sederhana di atas, kau tidak sendiri. Arti kalimat itu juga sepertinya bukan hal yang asing lagi bagi kita. Biasanya kalimat itu diucapkan untuk menghibur, meneguhkan, memberi semangat orang yang sedang sedih, lemah, atau berputus asa. Arti kalimat itu bisa berbeda tergantung situasi dimana ia digunakan. Beberapa kemungkinan situasi adalah sebagai berikut:

  1. ”Banyak orang di luar sana mengalami hal yang sama, bahkan lebih berat dari permasalahanmu. Mereka juga mengalaminya! Percayalah, KAU TIDAK SENDIRI”.
  2. ”Saya harap kau mempertimbangkan kembali keputusanmu. Pikirkan dampaknya terhadap orang-orang di sekitarmu. Ingatlah, KAU TIDAK SENDIRI”.
  3. ”Ujian hidupmu memang sangat berat. Tapi Tuhan sudah pastikan bahwa ini tidak akan melampaui kekuatanmu. Dia berjanji dan setia pada janjiNya bahwa Dia akan menyertai, memelihara, menolong dan memberi jalan keluar. Dalam melalui ujian ini, KAU TIDAK SENDIRI”
  4. ”Selagi kau jauh di sana, kami tidak akan dapat mengamatimu seperti saat masih tinggal bersama kami. Tetapi ingatlah, dimanapun kau berada, ada Tuhan yang akan selalu mengamatimu. Takutlah senantiasa akan Dia. Kau memang sendirian tetapi KAU TIDAK SENDIRI”.

 

Ada 2 kesamaan yang terdapat dalam keempat situasi di atas. Yang pertama adalah bahwa merasa sendiri itu berakibat buruk. Ia dapat membuat seseorang (1) merasa paling malang di dunia, (2) menjadi egois, (3) berputus asa, atau (4) hidup dalam dosa tersembunyi. Yang kedua adalah bahwa merasa sendiri itu hanyalah sebuah anggapan dan bukan sebuah kenyataan. Pada keempat contoh di atas, orang kepada siapa kalimat itu ditujukan sebenarnya tidak sedang dalam keadaan sendiri. Dia hanya menganggap sedang sendiri, padahal pada kenyataannya tidak. Orang itu  perlu disadarkan dari anggapannya dengan menggunakan kalimat negatif (kontradiktif) yaitu kau tidak sendiri. Sekiranya orang itu sadar, atau berhasil diyakinkan, bahwa dia sebenarnya tidak dalam keadaan sendiri, sangat mungkin dia tidak akan mengalami hal-hal buruk di atas. Dengan kesadaran itu diharapkan: (1) dia tidak akan merasa sebagai orang paling malang di dunia, karena banyak orang mengalami hal yang sama, (2) dia tidak akan egois karena sadar ada orang lain di sekitarnya yang memiliki kepentingan seperti dirinya, (3) dia akan tegar menghadapi masalahnya karena Tuhan pasti menolong, (4) dia akan bersikap sama baiknya ketika dilihat atau tidak dilihat manusia, karena sadar bahwa Allah melihat.

 

Dari 4 contoh situasi di atas, contoh nomor 3 adalah situasi yang paling sering kita alami sebagai orang kristen. Masalah dalam kehidupan kita akan terus ada sampai waktu Tuhan tiba. Di sinilah indahnya persekutuan, kita bisa saling menghibur di dalam Tuhan. Indah, tetapi juga unik. Keunikannya adalah bahwa kita bergantian mengambil peran, kadang kita berperan sebagai orang yang mengucapkan Kau tidak sendiri kepada orang lain, tetapi kadang kala kita berperan sebagai orang yang mendengarkannya dari orang lain (semoga saja kita lebih sering mengambil peran mengucapkannya daripada mendengarkannya, karena dengan demikian berarti kita lebih banyak memberi semangat kepada orang lain dari pada menyita tenaga orang lain untuk menghibur kita). Ketika kita mengucapkannya atau mendengarkannya, kita berada dalam proses membuang anggapan sedang sendiri, dan menyadarkan kita kepada fakta bahwa kita tidak sendiri.

 

Mungkinkah seseorang dalam keadaan benar-benar sendiri, bukan sekedar sedang beranggapan? Sebuah kamus mendefenisikan kata sendiri sebagai: tanpa kehadiran atau bantuan pihak  lain. Dari pengertian tersebut, sepertinya di jaman ini dimana dunia tidak berbatas (borderless) dengan peralatan komunikasinya yang sangat canggih,  tidak bakal ada orang yang benar-benar sendiri, bahkan sekalipun dia menginginkan hal itu! Jaman ini ’memaksa’ kita untuk tidak menjadi sendiri. Menjadi benar-benar sendiri adalah sesuatu yang mustahil! Sekiranya pun, katakanlah melalui berbagai usaha, memungkinkan bagi seseorang untuk benar-benar menjadi sendiri, itu hanya akan berlaku bagi orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Orang kristen tidak mungkin berada dalam keadaan sendiri sebab Tuhan adalah Yang Awal dan Yang Akhir. Tuhan itu ada. Alkitab mencatat bahwa Tuhan itu hadir dan berjanji memelihara umatNya.

 

Ada 2 hal yang dapat kita pahami sekarang, yaitu (1) bahwa sesungguhnya semua hal buruk di atas muncul akibat dari anggapan merasa sendiri saja, dan (2) bahwa faktanya adalah orang kristen tidak mungkin sendiri karena Tuhan telah berjanji untuk menyertai umatnya (lihat Yesaya 41:10). Apakah pemahaman ini akan membantu kita dalam menghadapi permasalahan hidup? Mungkin ya, mungkin tidak, dan mungkin juga ya dan tidak. Mari kita merenungkannya dan mencari jawabannya untuk kita masing-masing dan mengubah pemahaman ini menjadi sebuah keyakinan iman dalam diri kita. Hanya ketika ini telah menjadi sebuah keyakinan iman, bahwa kita tidak pernah sendiri karena Tuhan selalu ada, saat itulah pemahaman ini mengambil perannya dalam membantu kita menghadapai permasalahan hidup. Selamat berjuang karena KAU TIDAK SENDIRI!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: