Haruskah Saya Menikah?

Suatu kali saya mengetik kata “pernikahan” pada mesin pencari (search engine) di internet dan alangkah terkejutnya saya saat mesin pencari menyajikan 6.110.000 web atau pages. Tak terbayangkan oleh saya betapa banyak waktu yang akan dibutuhkan untuk melihat seluruh web itu! Namun, saya coba membuka beberapa yang berada di posisi teratas dan saya cukup terkesan kalau salah satu yang berada di halaman depan adalah tentang pernikahan be-ce-el, Bunga Citra Lestari, dan Ashraf. Di sana diceritakan mulai dari kisah percintaan mereka hingga adanya gangguan pada sepatu pengantin si Bunga (ah..selebriti…selebriti…). Iseng-iseng saya coba lagi ketik kata “marriage” dan meng-klik search. Alamak…kepada saya disajikan 746.000.000 web! Apa artinya jumlah yang fantastis ini? Kesimpulan saya saat itu adalah bahwa topik ini sangat menarik perhatian orang di seluruh dunia. Untung saja saya sudah  menikah sehingga tidak sulit bagi saya untuk segera bisa memaklumi tingginya angka itu. Pernikahan memang topik hangat seumur hidup, sepanjang jaman dan tidak memandang suku, agama, kelompok dan jenis kelamin.

 

Sepintas melihat pembahasan beberapa web tersebut, saya menemukan banyak sekali thema pembahasan mereka. Meski demikian, sebenarnya mereka dapat dikelompokkan berdasarkan fokus pembahasan dan target pembacanya. Lebih sempit lagi, sepertinya mereka dapat dikelompokkan berdasarkan pertanyaan yang hendak mereka jawab, misalnya:

  1. Apa arti pernikahan?
  2. Haruskah saya menikah?
  3. Kapan sebaiknya saya menikah?
  4. Dengan siapa saya akan menikah?
  5. Bagaimana saya akan menikah?
  6. Dimana saya akan menikah?
  7. Bagaimana menjalani kehidupan pernikahan?
  8. Apa hubungan sex dengan pernikahan
  9. Apa pengaruh anak dalam pernikahan?
  10. dll (tentang pernak-pernik pernikahan)

 

Terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, mereka menawarkan berbagai jawaban atau pendapat, ada yang mirip, bahkan sama, tapi ada juga yang berbeda, bergantung kepada rujukan atau sudut pandang penulis.

 

Di usia pernikahan saya yang baru memasuki tahun ke-7, saya diyakinkan bahwa di antara banyak pertanyaan tentang pernikahan, 2 pertanyaan terpenting yang seharusnya direnungkan dengan sangat serius oleh setiap orang sebelum menikah adalah: Apa arti pernikahan dan Haruskah saya menikah? Alasaannya adalah karena pemahaman yang benar atas arti pernikahan akan menghasilkan sikap atau tindakan yang benar dalam menjalani pernikahan itu. Bukankah sikap dan tindakan adalah buah dari pengertian-pengertian yang dimiliki oleh seseorang? Namun, sekedar memiliki pemahaman atas arti pernikahan tidak serta merta membuat seseorang akan berhasil menjalani kehidupan pernikahannya. Keberhasilan pernikahan seseorang ditentukan juga oleh motivasi atau alasan atau tujuannya menikah. Steven R. Covey dalam bukunya “The 7 Habits of Highly Effective People” dan Rick Warren dalam bukunya “The Purpose Driven Life” mengatakan bahwa tujuan hidup itu penting untuk kehidupan yang berarti dan efektif dan bahwa setiap sikap atau tindakan seseorang ditentukan oleh tujuan hidupnya. Pendapat kedua penulis itu berlaku juga dalam hal pernikahan. Motivasi, tujuan atau alasan seseorang untuk menikah akan menentukan cara seseorang menjalani kehidupan pernikahannya. Motivasi, alasan dan tujuan inilah yang diharapkan tergali dan terrenungkan melalui pertanyaan: Haruskah saya menikah?

 

Terhadap pertanyaan apa arti pernikahan, saya tidak ingin berkata banyak lagi. Pengertian yang sudah kita peroleh melalui berbagai cara sejak kecil hingga di usia dewasa ini sudahlah cukup. Tetapi untuk pertanyaan haruskah saya menikah, saya ingin memberikan sedikit pendapat dan mudah-mudahan tidak dianggap sebagai pemicu keraguan.

 

Haruskah saya menikah? Hanya ada 2 kemungkinan jawaban terhadap pertanyaan itu, yaitu YA atau TIDAK. Jika seseorang memiliki jawabannya YA, maka dia akan mengusahakan mencari dan menemukan pasangannya. Jika jawabannya TIDAK, maka dia tidak akan berusaha untuk mencarinya. Ini adalah akibat logis dari sebuah keyakinan dan secara umum manusia akan berlaku demikian. Sesederhana itu!

 

Sebagai orang yang percaya kepada otoritas Sang Pencipta, saya meyakini bahwa jika jawaban YA ini sungguh berasal dari DIA, maka pencarian seseorang tentu akan berakhir dengan dipertemukannya dia dengan pasangan hidupnya. Namun, jika jawaban YA ini bukan berasal dari DIA, maka sebesar apapun usaha pencarian seseorang, pasangan itu tidak akan pernah muncul karena memang dia tidak pernah ada di dunia ini. Kalaupun seseorang akhirnya menikah, sebenarnya dia sedang memaksakan keinginannya dan menikahi orang yang bukan diperuntukkan untuk dia. Sebaliknya, jika jawabannya TIDAK, tetapi jawaban TIDAK ini bukan berasal dari DIA, maka si pasangan hidup itu pasti dikirimkanNYA juga kepada seseorang dan seharusnya dia menerimanya. Dia mungkin saja memilih hidup melajang padahal bisa jadi seseorang sudah diciptakan untuknya tetapi karena ketidaktaatan, akhirnya dia menolak untuk menikah.

 

Pastilah ada pembaca yang berargumentasi bahwa memang sesederhana itu logikanya, namun tidak sesederhana itu penerapannya. Saya masih meyakini bahwa penerapannya juga masih sederhana asal kita mau berpikir dan bersikap sederhana, merendahkan diri dan memasrahkan diri di hadapanNYA. Bukankah Tuhan itu maha kuasa, pencipta dan pemilik alam semesta? Bukankah kuasaNYA tidak terbatas? Bukankah kalau DIA mau, semua pasti terjadi? Orang-orang sederhana meyakini bahwa kalau sesuatu yang kita harapkan tidak terjadi, itu berarti bahwa DIA memang tidak mau itu terjadi. Orang-orang yang berpikir rumit menghabiskan banyak sumber dayanya untuk memperoleh sebuah jawaban lain mengapa sesuatu yang diharapkannya tidak terjadi. Berpikir keras sah-sah saja sepanjang dia tidak berpikir rumit.

 

Banyak kesalahan, kerusakan bahkan bencana di keluarga, masyarakat, negara dan dunia justru terjadi akibat kerumitan cara berpikir manusia. Lucunya, semakin bertambah usia, pengalaman dan pengetahuan manusia, cara berpikir manusia juga cenderung semakin rumit. Lihatlah sejarah yang dicatat oleh Kitab Suci. Cukup banyak cerita tentang kerumitan berpikir yang mengakibatkan hilangnya iman. Saya percaya bahwa iman memerlukan kesederhanaan. Kerumitan berpikir seringkali membuat orang kehilangan iman. Salah satu hal yang membuat Tuhan mengasihi anak-anak adalah karena kesederhanaan mereka. Tidak ada kerumitan berpikir dalam diri seorang anak. Bukankah kesederhanaan ini juga yang membuat para orangtua dan orang dewasa suka melihat anak-anak? Mereka tampak lucu-lucu dan manis-manis bukan karena paras mereka, tetapi karena kesederhanaan dan kepolosan mereka. Itulah kesederhanaan, dan itulah sebabnya di atas saya katakan: Sesederhana itu!

 

Di gereja tempat saya beribadah, setiap ibadah selalu ada doa syafaat yang salah satu topiknya adalah untuk umat yang belum menikah dan masih mencari teman hidup. Para pemimpin doa syafaat itu, seingat saya, selalu meminta agar Tuhan memberikan teman hidup untuk mereka. Hampir tidak ada doa yang memohon agar Tuhan memberi kepekaan kepada mereka untuk mengetahui kehendakNYA tentang panggilan hidup menikah atau melajang. Tampaknya pandangan bahwa Adam diciptakan untuk menikah dengan Hawa dan beranak cucu lebih disukai oleh umat daripada pandangan hidup melajang seperti yang dijalani dan dianjurkan oleh Rasul Paulus. Sebagian besar umat meyakini bahwa menikah adalah salah satu mata rantai atau siklus kehidupan manusia normal dan bahwa memang semua orang diciptakan Tuhan untuk menikah. Padahal tidak demikian adanya. Maafkan jika saya menggunakan argumentasi ekstrim; jika Tuhan berencana agar semua orang menikah, mengapa tidak diciptakanNYA pria dan wanita sama jumlahnya? Statistik kependudukan di Indonesia dan dunia menunjukkan bahwa jumlah penduduk wanita lebih banyak dari jumlah penduduk pria. Ada data yang menyatakan jumlah wanita 3 kali lebih banyak, bahkan ada yang menyatakan 7 kali lebih banyak. Mohon tidak diartikan bahwa ini berarti semua pria pasti menikah (karena tersedia cukup wanita) dan belum tentu semua wanita akan menikah (karena kurangnya ketersediaan pria). Argumentasi ekstrim ini saya tujukan untuk menegaskan bahwa secara matematispun sudah cukup jelas bahwa memang ada kemungkinan manusia diciptakan melajang. 

 

Pernikahan adalah panggilan dan karunia Tuhan sebagaimana hidup melajang adalah juga panggilan dan karuniaNYA. Tidak semua orang harus menikah dan mungkin banyak orang yang saat ini sudah menikah seharusnya tidak menikah. Yesus berkata, “Ada orang yang tidak dapat kawin karena memang ia lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti” (Matius 19:12). Rasul Paulus menulis, “Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu. Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku” (1 Korintus 7:7-8). Mengapa seseorang tidak menikah? Satu alasan yang dicatat Kitab Suci adalah bahwa seseorang yang melajang dapat “melayani Tuhan tanpa gangguan” (1 Korintus 7:35). Hidup melajang berarti perhatian kita tidak terbagi antara menyenangkan Tuhan dan menyenangkan pasangan (1 Korintus 7:32-35).

 

Haruskah saya menikah? Sangat penting mengetahui jawabannya, namun tidak mudah untuk memperolehnya. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Cari dan dapatkanlah jawabannya dari Sang Pemilik hidupmu. DIA punya banyak cara untuk menyampaikan jawabanNYA kepada kita dan sebenarnya setiap saat DIA sedang menyatakan sesuatu kepada kita. Kalau pesan Tuhan tidak sampai kepada kita, periksalah “kerusakan” pada diri kita, bukan pada diri Tuhan. Gangguan bukan pada pihak Tuhan! Tuhan berkata, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matius 7:7). Ini adalah sebuah jaminan dari Tuhan bahwa jawaban pasti diperoleh. Langkah pertama adalah dengan “minta, cari dan ketoklah” untuk jawaban atas pertanyaan: haruskah saya menikah? Jika jawabanNYA YA, langkah kedua adalah melanjutkan dengan “minta, cari dan ketoklah” untuk si pasangan hidup itu. Mohon jangan dibalikkan urutannya! Bersyukurlah untuk pernikahan dan pasangan hidupmu karena itulah karunia dan panggilanmu. Sekiranya jawabanNYA TIDAK, lanjutkanlah dengan “minta, cari dan ketoklah” untuk panggilan khususmu untuk hidup melajang. Bersyukurlah juga karena itulah karunia dan panggilan hidupmu.

 

Akhirnya, saya ingin mengulang kembali bahwa manusia bersikap dan bertindak berdasarkan tujuan hidupnya. Apa sebenarnya yang menjadi tujuan hidup seseorang dapat dengan mudah diketahui dari pilihan-pilihan dan keputusan-keputusannya. Ilmu psikologi klasik menyatakan bahwa manusia secara naluriah bertindak untuk menghindari penderitaan dan mendapatkan kenikmatan. Dari pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan seseorang, kita dapat mengetahui apa yang menjadi kenikmatan yang dikejarnya dan apa yang menjadi penderitaan yang dihindarinya. Kenikmatan dan penderitaan sewaktu kita masih hidup di bawah kuasa daging haruslah berbeda dengan kenikmatan serta penderitaan setelah kita hidup di dalam Roh, karena Roh berbeda dari daging. Rasul Paulus mengalami hal tersebut sehingga sesuatu yang dulu dianggapnya berharga, sekarang dianggapnya sampah setelah mengenal Tuhan, dan sesuatu yang dulunya dianggapnya penderitaan, sekarang malah dianggapnya kebahagiaan.

 

Penderitaan kita adalah menyakiti hati Tuhan melalui pernikahan atau melajang yang tidak dikehendakiNya dan kenikmatan bagi kita adalah menyenangkan hati Tuhan melalui pernikahan atau melajang yang dikehendakiNya.

 

Haruskah Anda Menikah?

4 comments

  1. Maria Pijnaker Simarmata · ·

    Saya setuju dgn apa yg kmu tulis Ken dan memang tepat seperti yg kmu bilang begitu sederhana namun manusia cendrung membuatnya rumit dan inti yang utama adalah kepekaan kita untuk mendapat jawaban YA ato TIDAK! Semoga artikel ini bermanfaat bagi byk org ! sukses n JBU.

  2. kalo saya setuju dengan jawaban ya..karena manusia memang di ciptakan untuk hidup berpasangan,,,karena allah menciptakan dua mahluk yaitu pria dan wanita dan untuk apa allah menciptakan kalau tidak untuk berpasangan dan menjala i kehidupan yang damai dan meminta keberkahan atas dirinya setelah pernikahan tersebut.

  3. “salam buat teman teman yang belum menikah semoga cepat mendapat kan jodoh yang di carinya Amiien,,,,,,”
    searc Eka sri sugiarti

  4. masluck · ·

    Ken, secara probability, kemungkinan lahirnya wanita atau laki2, adalah 50:50
    Jadi jumlah wanita secara statistik sebenarnya mendekati sama dengan jumlah laki2… Kalau kenyataan wanita lebih banyak dari laki2, mungkin karena perang, karena penyakit jantung, dll yang lebih mengenai laki2..umur wanita umumnya lebih panjang dp laki2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: