BLESSED BLOG

Blessed to be a blessing through daily life

Archive for the ‘Spiritual’ Category

Rendah Hati: Antara Karakter dan Sikap

Posted by Asken Sinaga on September 15, 2009

(telah diterbitkan di Warta PAK FMIPA Medan edisi September 2009)

Kerendah-hatian adalah sebuah karakter (sifat) sekaligus sebuah sikap (perilaku). Ia disebut sifat karena ia berada di wilayah pikiran dan hati yang berperan besar dalam menghasilkan perilaku manusia. Ia disebut perilaku karena ia harus terwujud dalam perilaku-perilaku tertentu yang oleh khalayak umum diakui sebagai tanda-tanda kerendah-hatian. Kerendah-hatian sejati muncul apabila keduanya menyatu dan saling melengkapi seperti 2 sisi pada satu koin. Kita tidak dapat mengatakan seseorang itu rendah hati apabila kita tidak melihat perilaku-perilaku rendah hati dalam hidupnya. Sebaliknya, kita juga tidak serta merta dapat menyimpulkan bahwa seseorang itu rendah hati melalui perilaku-perilakunya karena ada kemungkinan sikapnya adalah rekayasa dan bukan merupakan dorongan hatinya.

Saya mencoba mencari kata “rendah hati” dalam Alkitab dan dengan bantuan perangkat lunak Alkitab saya menemukan 22 ayat dalam PL dan PB yang memakai kata itu. Selanjutnya juga ditampilkan 5 ayat yang menggunakan “kerendahan hati”, 2 ayat yang menggunakan “merendahkan hati” dan 38 ayat yang menggunakan “merendahkan diri”.

Alkitab berbahasa Inggeris (versi King James) menggunakan beberapa istilah untuk kata “rendah hati”, yaitu meek (meekness), lowly (lowliness), humble (humility), afflict, cast down, dan courteous. Kata-kata yang paling sering dipakai adalah meek, humble dan lowly sedangkan yang lainnya hanya sesekali digunakan.

Merriam-Webster Online Dictionary menterjemahkan meek sebagai mengalami luka dengan kesabaran dan tanpa rasa pedih di hati; humble diartikan sebagai tidak merasa terhormat, tidak sombong dan tidak arogan; lowly adalah berada dalam sikap humble dan meek. Lebih lanjut tentang kata humility, disebutkan bahwa kata itu berasal dari bahasa Latin “humilitas“, sebuah kata benda yang berhubungan dengan kata sifat “humilis“, yang diterjemahkan tidak hanya sebagai “humble“, tetapi juga sebagai “rendah”, “berasal dari bumi” dan “tidak dihormati”.

Pengertian di atas tidak langsung membuat kita memahami makna sikap rendah hati. Ini tidak mengherankan karena arti kata adalah berbeda dengan makna kata. Arti adalah tentang harfiah dan mengacu kepada referensi yang digunakan sedangkan makna lebih merupakan tentang pemahaman kita berdasarkan nilai-nilai dan keyakinan yang telah kita miliki. Oleh karena itu pemahaman orang atas “rendah hati” bisa berbeda-beda sebab banyak sekali nilai-nilai dan keyakinan yang ada di masyarakat saat ini. Bahkan dalam diri sesama orang Kristen sendiri, makna “rendah hati” bisa tidak sama karena kemungkinan adanya nilai-nilai lain di samping nilai-nilai Firman Tuhan dalam diri mereka.

Di tengah jaman yang penuh kompetisi seperti sekarang ini, adalah sangat sulit untuk menemukan orang yang rendah hati bahkan mungkin telah ada keraguan (kalau bukan keyakinan) bahwa kerendah-hatian sudah tidak relevan lagi karena dianggap sebagai penghalang keberhasilan sehingga “rendah hati” ditinggalkan oleh banyak orang. Keinginan semua orang untuk menjadi “seseorang” dan penolakan semua orang menjadi “bukan siapa-siapa” diduga menjadi penyebabnya. Ada desakan yang sangat kuat dalam diri setiap orang untuk menjadi penting dan berarti serta mendapat pengakuan dari lingkungan dan masyarakat dan akibatnya terjadi persaingan yang sangat ketat untuk menjadi penting dan berarti itu. Situasi bersaing inilah yang menurut Paul T. P. Wong, Ph.D., C. Psych. President, International Network on Personal Meaning Coquitlam, B.C., Canada, dalam sebuah esainya sebagai hal yang membuat orang tidak menyukai dan sulit memahami makna sebenarnya dari kerendah-hatian. Persaingan ini mendorong orang berlomba-lomba untuk menjadi yang utama, dan berlomba-lomba mencegah orang lain menjadi yang utama. Semua orang ingin menjadi nomor 1. Sementara seperti diulas di atas, makna rendah rendah hati mengandung kerelaan untuk menjadikan diri rendah, tidak dihormati dan “bukan siapa-siapa”.

Pandangan Kristen tentang kerendah-hatian sangat jelas. Yang menjadi dasar sikap rendah hati dalam pandangan Kristen adalah diri Kristus sendiri mulai dari kerendahan dalam kelahiranNya di kandang domba, kerendahan dalam sikap sehari-hari di masa hidupNya dan akhirnya kerendahan dalam pengorbananNya di Kayu Salib. Kerendahan hati Kristiani juga bersifat paradoks sebagaimana Kristus katakan: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23: 11-12). Yakobus menegaskan ini dalam Yak 4: 10: “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu”.

Perhatikan bahwa Alkitab sesungguhnya mengakui adanya keinginan alamiah manusia untuk menjadi yang utama, untuk menjadi “seseorang” dan untuk menjadi berarti dan penting. Hanya memang untuk mencapainya, Alkitab menawarkan cara yang tidak populer yaitu dengan cara merendahkan diri dan mengosongkan diri sedangkan dunia menawarkan cara-cara keangkuhan yang sering kali dibungkus dengan istilah-istilah indah seperti aktualisasi diri, penemuan jati diri, optimalisasi diri, meraih impian, menjadi berarti, dll.

Menarik untuk diperhatikan bahwa sebagaimana disebutkan di atas kata “merendahkan diri” digunakan sebanyak 38 kali dalam Alkitab dan menjadi yang paling banyak di antara kata-kata senada yang lain. Kalau disimak secara lebih dalam, pemakaian kata “merendahkan diri” itu menyiratkan beberapa pengertian. Pertama, ia bersifat aktif dan bukan pasif. Artinya kita diminta untuk dengan sadar merendahkan diri dan dengan demikian diperlukan daya dan upaya dari kita untuk membuat diri menjadi rendah. Kedua, terkesan bahwa manusia secara naluriah dan alami selalu meninggikan diri sehingga perlu diperintahkan Tuhan untuk segera menghentikannya dan berbalik merendahkan diri. Ketiga, tersirat arti bahwa naluri meninggikan diri itu tidak baik sehingga Tuhan perlu perintahkan manusia untuk meningglkannya dan selanjutnya memerintahkan manusia untuk beralih kepada sesuatu yang baik yaitu merendahkan diri.

Hal lain yang menarik dari pencarian saya di atas adalah bahwa menurut Alkitab ada beberapa upah atau ganjaran yang akan kita peroleh jika kita rendah hati atau merendahkan diri, yaitu: makan dan kenyang, jalannya dibimbing Tuhan, bersukacita, mewarisi negeri, kesejahteraannya berlimpah-limpah, dimahkotai dengan keselamatan, dikasihani Tuhan, memiliki hikmat, menerima pujian, semangatnya dihidupkan oleh Tuhan, terlindung pada hari kemurkaan Tuhan, dibiarkan hidup, dihibur Tuhan, diganjar dengan kekayaan, kehormatan dan kehidupan.

Saya terkejut dengan bacaan Firman Tuhan ini. Semua ganjaran sikap rendah hati di atas ternyata adalah hal-hal yang menjadi tujuan hidup manusia pada umumnya. Coba perhatikan sekali lagi satu persatu ganjaran atau upah itu. Benar bukan, bahwa hal-hal itulah yang kita cari dalam hidup ini? Betapa “sederhana” ternyata untuk memperoleh kebahagiaan hidup. Hanya dengan bersikap rendah hati dan merendahkan diri di hadapan Tuhan, semua itu bisa kita dapatkan sebagai upah dari Bapa di Sorga.

Bagaimana menjadi rendah hati? Kita semua sedang belajar untuk itu. Perenungan yang terus-menerus akan anugerah keselamatan yang sudah Bapa berikan melalui Yesus Kristus kepada kita seharusnya bisa menjadi dasar yang kuat sekali untuk kita menjadi rendah hati. Kita “bukan siapa-siapa” tetapi kita diselamatkanNya. Kesadaran ini seharusnya membuat kita tak henti-hentinya bersyukur dan tak bosan-bosannya merendahkan diri. Selama kita meyakini bahwa menjadi yang utama di antara orang lain adalah tujuan hidup, selama itu juga kita akan gagal menjadi rendah hati.

Memang, banyak sekali sikap dan tindakan yang dapat dikategorikan sebagi sikap rendah hati. Tetapi bagi saya mendaftarkan sikap-sikap itu dan memasukkannya dalam “Daftar Untuk Dikerjakan” adalah kurang tepat karena itu menyebabkan kita tidak “hidup” dalam melakukannya dan pelaksanaannyapun akan bersifat sementara saja. Pemeliharaan dan penguatan sifat rendah hati di dalam pikiran dan hatilah yang jauh lebih penting. Jika sifat itu tumbuh dengan baik, ia akan memahami mengapa daftar itu ada dan dengan sendirinya akan dapat menambahkan sikap-sikap lain ke dalam daftar itu dan pelaksanaannyapun akan bersifat permanen. Namun demikian, tidak ada salahnya jika kita coba melihat beberapa sikap yang baik untuk dilatih sambil kita terus berjuang merendahkan diri di dalam pikiran dan hati.

Wong berpandangan bahwa ada 2 pendekatan yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan dan memelihara kerendah-hatian yaitu pendekatan makro dan pendekatan mikro. Pada tingkat makro, kita perlu memegang teguh keyakinan iman kita melalui beberapa sikap berikut:

  • Kesadaran diri bahwa kita pasti mati
  • Kepercayaan akan kehidup setelah kematian
  • Menyadari bahwa kita tidak sempurna dan melakukan keasalahan
  • Menyadari kebutuhan untuk dipulihkan dan disucikan
  • Menyadari kebutuhan pertolongan dan tuntunan
  • Percaya kepada kuasa roh
  • Percaya akan kebutuhan tunduk kepada kekuatan yang lebih tinggi

Pada tingkat mikro, kita perlu mengembangkan kebiasaan sikap kerendah-hatian dalam keseharian kita. Ini meliputi beberapa latihan berikut:

  • Mengakui kesalahan
  • Menerima perbaikan dan umpan balik dengan hati lapang
  • Menghindari mengkritik orang lain
  • Memaafkan orang yang bersalah
  • Meminta maaf kepada orang lain jika kita bersalah
  • Menanggung ketidakadilan dengan kesabaran dan semangat mengampuni
  • Memikirkan dan membicarakan hal-hal yang baik tentang orang lain
  • Bersukacita atas keberhasilan orang lain
  • Menghitung berkat-berkat yang diterima, baik atau buruk
  • Selalu mencari kesempatan untuk melayani orang lain
  • Rela untuk tetap tidak diingat ketika menolong orang lain
  • Menunjukkan rasa syukur kasih atas keberhasilan yang dicapai
  • Memberikan pujian kepada orang lain yang berperan dalam keberhasilan kita
  • Menganggap keberhasilan sebagai sebuah tanggung jawab untuk melakukan lebih lagi kepada orang lain
  • Bersedia belajar dari kegagalan
  • Mengambil tanggunjawab atas kegagalan yang terjadi
  • Menerima keterbatasan dan lingkungan kita
  • Menerima kenyataan sosial bahwa ada diskriminasi dan ketidakadilan
  • Memperlakukan orang lain dengan rasa hormat tidak peduli status sosialnya
  • Menikmati status rendah menjadi orang luar dan bukan siapa-siapa

Daftar yang banyak itu mengarah ke satu prinsip dasar yaitu bahwa rendah hati adalah tentang mengutamakan orang lain dan menempatkan diri sendiri di posisi yang lebih rendah daripada orang lain. Rendah hati adalah tentang menjadi pelayan orang lain dan “mengosongkan” diri sendiri dan menjadi “bukan siapa-siapa”.

Menjadi rendah hati adalah perjuangan seumur hidup. Namun kita tidak perlu khawatir karena kita mempunyai Tuhan yang rendah hati dan berjanji menolong kita menjadi rendah hati seperti Dia. Akhirnya, dengan meminjam istilah Wong, dalam berhadapan dengan kompetisi dunia yang menggoda kita untuk meninggikan diri, kita perlu mencoba merenungkan kalimat indah ini setiap hari: I am glad that I am nobody!

Posted in Spiritual | Leave a Comment »

PEDULI BANGSA DAN NEGARA: Sebuah ukuran kedewasaan rohani

Posted by Asken Sinaga on July 15, 2009

(Telah diterbitkan di Warta PAK FMIPA Medan)

Dalam teori dua kerajaannya, Marthin Luther menggambarkan bahwa negara dan gereja memiliki kewenangan yang berbeda. Negara mempunyai wewenang dalam hal kesejahteraan, sedangkan gereja mempunyai wewenang dalam hal kerohanian. Gereja tidak boleh melawan pemerintah, kecuali negara mencampuri urusan gereja dalam wewenang kerohanian. Gereja dapat melawan negara demi ketaatan pada Allah apabila negara bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan kewajibannya. Peran sosial gereja kurang ditekankan dalam pandangan Luther, bahkan hubungan antara negara dan gereja cenderung dipisahkan secara total. Akibatnya, gereja menjadi pasif dan tidak peduli dengan hal-hal dunia yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya juga.

Menurut Calvin negara ada karena manusia telah jatuh ke dalam dosa. Namun, walaupun Calvin melihat negara secara negatif, ia percaya bahwa negara diperlukan agar tatanan kehidupan menjadi teratur dan lebih baik. Berbeda dengan Luther, Calvin berpendapat bahwa apabila negara menyalahgunakan kekuasaannya, baik dalam hal kerohanian maupun dunia, rakyat boleh melawannya. Jadi, Calvin tidak memisahkan negara dengan agama secara total; ia mengakui pemisahan tetapi tidak ada keterpisahan. Pandangan Calvin ini didasarkan oleh pemahaman bahwa gereja dan negara memperoleh wewenangnya dari Allah yang satu, bagi dunia yang satu dan kemanusiaan yang satu. Pemerintahan sipil merupakan sesuatu yang dibutuhkan karena dosa masih merajalela. Negara ada karena manusia cenderung berbuat kejahatan, bahkan di dalam masyarakat Kristen sendiri banyak orang yang tidak menjadi Kristen yang sejati.

Pandangan Calvin lebih diterima oleh kalangan Kristen secara umum termasuk oleh pelayanan mahasiswa dan alumni yang kita miliki. Salah satu misi dari pelayanan mahasiswa adalah agar alumni yang dihasilkan menjadi garam dan terang bagi bangsa dan negara. Kita bersyukur karena bisa melihat dan mendengar bagaimana alumni telah memberi dampak positif di berbagai aspek kehidupan di negara Indonesia tercinta ini. Sebaliknya, kita juga merasa sedih sebab masih sangat sering kita melihat dan mendengar bahwa alumni tidak berbuat apa-apa meskipun mereka memiliki kesempatan dan pengaruh untuk melakukan perubahan.

Binsar A. Hutabarat dalam tulisannya di Jurnal Teologi Stulos berjudul Negara Menurut Perjanjian Lama menyimpulkan bahwa hal yang menghambat aktivitas orang Kristen dalam negara adalah adanya penekanan yang terlalu berlebihan mengenai kewarganegaraan surga. Tidak sedikit orang Kristen yang berpikir bahwa karena mereka bukan warga negara dunia tetapi warga negara surga, maka mereka tidak perlu menghabiskan waktu untuk memberikan kontribusi positif pada negara. Sekedar menjadi warga negara yang baik saja sudahlah cukup. Orang Kristen bahkan banyak yang merasa tabu untuk turut serta dalam pembangunan negara secara khusus dalam politik praktis. Bagi mereka politik sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tanpa moral.

Pendapat Hutabarat ini bisa jadi benar untuk beberapa kalangan, tetapi saya tidak yakin kalau ini jugalah yang menjadi penyebab kurangnya partisipasi alumni Kristen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengalaman merasakan pelayanan sejak masih menjadi mahasiswa dan setelah menjadi alumni serta pengamatan terhadap program-program pembinaan yang ada saat ini di persekutuan-persekutuan mahasiswa dan alumni, membuat saya meragukan pendapat itu.  Keseimbangan pengajaran tentang perkara dunia dan rohani saya rasakan sudah sangat baik, termasuk dalam hal peranan orang Kristen (gereja) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengajaran bahwa kita adalah warga surga (people of the Kingdom) yang ada dunia untuk menghadirkan kerjaan surga di dunia melalui berbagai aspek kehidupan, menurut hemat saya adalah thema utama program pelayanan mahasiswa dan alumni sejak dulu, sekarang dan di masa yang akan datang.

Beberapa tahun yang lalu, sewaktu masih menjadi pengurus Persekutuan Alumni Kristen (PAK) Perkantas Medan, saya berkesempatan melakukan berbagai pertemuan dengan beberapa persekutuan alumni yang ada di kota Medan. Tujuannya adalah untuk saling berbagi rencana program dan sekiranya mungkin untuk menyelaraskan program-program sehingga tidak saling tumpang tindih, sebaliknya agar diperoleh program-program yang saling menguatkan sehingga kekuatan pelayanan menjadi lebih besar akibat adanya sinergi. Dari komunikasi yang ada saya menemukan bahwa pada dasarnya semua PAK memiliki misi yang sama yaitu untuk menghasilkan alumni yag menjadi berkat (garam dan terang) bagi pekerjaan, keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara dan dunia. Tujuan ini malahan secara tegas tertulis dalam pernyataan visi, misi atau anggaran dasar organisasi. Yang menarik adalah bahwa kalimat atau pernyataan visi dan misi dari beberapa persekutuan itu selalu memiliki urutan atau pola yang sama, yaitu menjadi garam dan terang bagi pekerjaan, keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara (serta dunia).

Keunikan urutan ini semakin menarik perhatian saya karena beberapa pengalaman dan pengamatan menunjukkan bahwa alumni Kristen menghadapai pergumulan di semua aspek itu dan kelihatannya urutan itu mewakili anak tangga pergumulan sekaligus mewakili urutan prioritas bagi alumni: pertama pekerjaan, dilanjutkan dengan keluarga, lalu gereja, kemudian masyarakat, lebih lanjut bangsa dan negara (dan akhirnya dunia). Dengan kata lain, perjuangan untuk menjadi berkat di keluarga akan dimulai apabila alumni telah terlebih dulu berhasil dalam pergumulan pekerjaannya. Seterusnya, perjuangan untuk menjadi berkat di masyarakat cenderung akan dimulai setelah alumni berhasil dalam pergumulan pernikahan dan keluarga serta pekerjaan. Dengan cara berpikir yang sama, maka secara sadar atau tidak, alumni baru akan bertindak bagi bangsa dan negara apabila telah merasa berhasil dalam pekerjaan, keluarga, gereja, dan masyarakat. Cara berpikir demikian akhirnya membawa kita kepada sebuah anggapan bahwa mengambil bagian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah sebuah tahap lanjut dari pertumbuhan kerohanian seseorang.

Alasan ini kedengarannya lebih dapat diterima daripada alasan Hutabarat atas kurangnya partisipasi alumni untuk negara ini. Alumni cenderung memusatkan segala sumber dayanya untuk perkara-perkara yang berhubungan dengan diri sendiri (internal), seperti pekerjaan dan karir serta perkawinan dan keluarga. Aspek internal ini telah menyita sumber daya alumni setinggi-tingginya sehingga sangat sedikit, bahkan mungkin tidak ada lagi yang tersisa untuk digunakan bagi perkara-perkara di luar diri sendiri (eksternal), seperti gereja, masyarakat apalagi bangsa dan negara. Coba kita perhatikan topik-topik pembicaraan yang paling sering alumni bicarakan pada kesempatan bertemu di KTB, persekutuan, atau berbagai kesempatan lain. Biasanya topiknya berkisar pergumulan pekerjaan/bisnis, teman hidup/pasangan dan keluarga. Coba perhatikan juga catatan pokok-pokok doa yang kalau diamati kisarannya juga sempit, yaitu tentang kesehatan, pekerjaan/bisnis, rencana sekolah anak, belum punya rumah/rencana beli rumah, kebutuhan mobil/rencana beli mobil, rencana pindah kerja, orangtua/mertua, pendidikan dan biaya sekolah anak, tabungan hari tua, dll. Pembicaraan tentang gereja, masyarakat, bangsa dan negara bisanya hanya ada di acara-acara khusus seperti seminar-seminar, retret-retret dan kamp-kamp pembinaan. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua itu merupakan tanda-tanda negatif kerohanian dan bahwa itu semua tidak perlu. Yang ingin saya utarakan adalah bahwa itulah cakupan pergumulan alumni pada umumnya. Meminjam istilah Steven R. Covey dalam bukunya Tujuh Kebiasaan Manusia yang Paling Efektif, semua itu menunjukkan bahwa lingkaran kepedulian alumni masih kecil. Lingkaran kepeduliannya masih seputar hal-hal internal dan belum meluap kepada hal-hal eksternal.

Tanpa maksud menyederhanakan dan menyamaratakan keadaan, saya memberanikan diri mengatakan bahwa kenyataan rendahnya peranan kita dalam berbangsa dan bernegara adalah karena rendahnya kepedulian kita terhadap situasi bangsa dan negara kita. Untuk mengerti tentang makna kepedulian ini, saya ingin menyampaikan secara singkat beberapa hal tentang kepedulian sehingga maknanya dapat kita renungkan dengan baik. Pertama, kepedulian berbanding lurus dengan tindakan. Semakin besar kepedulian kita terhadap sesuatu, semakin besar tindakan kita untuk sesuatu itu. Sebaliknya, semakin rendah kepedulian kita, semakin kecil tindakan kita. Kita tidak akan berbuat apa-apa bagi negara kalau kepedulian kita terhadap isu-isu bernegara tidak ada. Kedua, kepedulian lebih merupakan perkara perasaan daripada pengetahuan.  Pengetahuan akan sesuatu tidak cukup kuat untuk melahirkan kepedulian terhadap sesuatu itu, tetapi kepedulian dipastikan muncul bila sesuatu itu telah memasuki wilayah perasaan seseorang seperti cinta, kasihan, sedih, prihatin, dll. Namun demikian, haruslah tetap diingat bahwa pengetahuan adalah prasyarat timbulnya perasaan. Tidak ada perasaan yang muncul tanpa didahului oleh sebuah pengetahuan. Semakin kuat perasaan kita terhadap seseorang, misalnya cinta, semakin peduli kita terhadap seseorang itu. Dengan cara yang sama, semakin kita sedih dan prihatin atas keadaan masyarakat Indonesia, semakin kita peduli terhadap mereka. Ketiga, kepedulian adalah tentang ego (kepentingan diri sendiri). Kita menjadi peduli jika sesuatu itu memiliki kepentingan atau keterkaitan dengan diri kita. Semakin besar keterkaitannya dengan kita, semakin peduli kita. Kita mungkin akan lebih peduli dengan PHK di kantor jika kita termasuk di dalam daftar orang yang akan di-PHK dibandingkan jika kita tidak termasuk di dalam daftar itu. Sebagai kesimpulan, kepedulian seseorang terhadap sesuatu akan muncul bila seseorang mengetahui, merasakan (perasaannya tersentuh) dan menjadi terkait secara pribadi dengan sesuatu itu.

Berdasarkan pemahaman itu, kita dapat mengetahui apa sebenarnya yang menjadi kepedulian seseorang melalui pilihan-pilihan tindakannya. Kalau seseorang menghabiskan banyak waktunya untuk pekerjaan/bisnis, maka sebenarnya dia sangat peduli dengan pekerjaannya. Surat-surat Paulus yang begitu banyak kepada berbagai jemaat menunjukkan bahwa dia sangat peduli dengan mereka. Jadi, apa yang paling banyak/sungguh-sungguh kita lakukan, menunjukkan apa sebenarnya yang menjadi kepedulian kita. Kalau kita coba jujur pada diri sendiri, sebagai orang berpendidikan tinggi dan telah dipilih Tuhan untuk diselamatkan, kita seharusnya merasa malu karena lingkaran kepedulian kita masih persis sama dengan orang pada umumnya, yaitu sekedar memikirkan pekerjaan/bisnis, keluarga, pendidikan anak, investasi hari tua, dll yang bersifat internal. Cara melakukannya memang pasti (?) berbeda dengan orang yang belum mengenal Tuhan, namun cakupan kepeduliannya setali tiga uang! Kalau Tuhan menciptakan kita hanya untuk meraih tujuan internal dan duniawi seperti itu, masak sih Dia sampai mau mengorbankan Yesus untuk kita. Pastilah ada hal besar yang Dia ingin kita kerjakan melalui pemilihan dan penebusanNya. Hal besar itu sudah kita ketahui bersama, yaitu untuk menjadi perpanjangan-tanganNya dan menghadirkan kerajaan Allah di negara ini.

Meningkatkan kepedulian sebenarnya tidak terlalu sulit. Perbanyaklah pengetahuan tentang situasi yang ada di negara ini melalui baca, lihat dan dengar. Kemudian, libatkan perasaan kita terhadap informasi itu. Tahap ini yang menurut saya paling penting dan sulit dilakukan. Namun, dengan sedikit kreatifitas, kita dapat merasakan situasi itu. Caranya adalah dengan melakukan praktek lapangan. Ketika saya membaca koran dan mendengar bahwa ada banyak barak pengungsian di Aceh saat bencana tsunami dulu, saya menjadi tahu tetapi perasaan saya belum banyak tersentuh. Ketika berkesempatan datang ke Aceh dan melihat barak-barak pengungsian yang berukuran 3 x 4 m itu, hati sayapun tersentuh. Ketika saya masuk ke dalam barak itu dan melihat 5 – 6 orang duduk dan berbaring di lantai papan dengan wajah sedih, pakaian dan perabotan berserakan, hati saya terenyuh. Ketika saya melihat siswa SD di sebuah pulau kecil di Maluku Utara, pulau yang ditempuh 10 jam perjalanan laut dari Ternate, pergi berjalan kaki ke sekolah dengan jarak 2-3 km, hati saya sedih. Ketika saya memasuki tempat pangkas rambut pinggir jalan di sekitar Pasar Mampang, Jakarta Selatan, dan menemukan antrian gepeng dan anak jalanan yang dibawa oleh ‘pimpinannya’, seorang pria berumur 30-an, untuk dipotong rambutnya, saya marah kepada pemerintah, kecewa kepada ‘pimpinan’ itu dan kasihan kepada anak-anak jalanan itu. Dengan cara itu saya membawa pengetahuan saya ke wilayah perasaan dan berusaha membuat diri terkait dengan situasi itu. Akibatnya adalah saya bertindak sesuai dengan kapasitas saya. Beberapa teman kita bertindak dengan menulis di koran dan majalah, sebagian melakukan unjuk rasa, sebagian membongkar praktek-praktek dosa dalam birokrasi dan sistem pendidikan, sebagian mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, sebagian menjadi guru di desa terpencil, dll. Mereka semua telah berhasil merasakan dan mengaitkan diri dengan berbagai situasi memprihatinkan di negara ini. Beberapa kisah teman-teman di daerah terpencil membuktikan hal yang sama. Mereka tersentuh hatinya dengan belas kasihan oleh karena mereka berada di lapangan. Semakin mereka terlibat di daerah itu semakin mereka ingin menetap dan berbuat di sana. Semakin dalam kita ‘menyelam’ dalam situasi nyata di lapangan, semakin ‘basah’ perasaan kita.

Langkah praktis sederhana yang dapat kita lakukan adalah dengan melakukan ‘wisata perasaan’ di akhir pekan khususnya bagi alumni yang kesehariannya tidak berkesempatan melihat kondisi seperi itu. Gantikan saja rencana liburan ke puncak menjadi kunjungan ke tempat kumuh di kota kita, lihat dan masuki gubuk mereka serta dengarkan suara hati. Gantikan rencana ke pantai menjadi kunjungan ke desa miskin terpencil dan cobalah menginap di rumah kaum miskin itu. Hati kita akan dibuat menangis dan kita akan terus gelisah kalau kita tidak berbuat sesuatu. Melalui wisata ini hati kita pasti disegarkan. Kesegaran yang kita rasakan akan jauh lebih baik dibandingkan kesegaran yang kita harapkan ada ketika melakukan jalan-jalan konvensional yang biasa dilakukan banyak orang ke tempat-tempat wisata.

Akhirnya, jangan biarkan kepedulian saja yang semakin besar. Kepedulian yang besar masih akan sia-sia kalau kita tidak memiliki kekuatan untuk mempengaruhi sesuatu. Kekuatan ini menurut Covey disebut dengan lingkaran pengaruh. Kita mungkin tahu ada banyak alumni yang memiliki kepedulian besar terhadap sesuatu, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka tidak memiliki pengaruh di wilayah itu. Oleh karena itu, sangat dianjurkan kita memperluas pengaruh kita dengan cara mengembangkan diri. Investasi waktu, dana dan daya untuk mengembangkan diri tidak akan percuma. Bertekunlah dalam pekerjaan agar suatu saat dipercaya menjabat posisi pengambil keputusan. Sementara itu, dalam keadaan sekarang ini, pergunakan pengaruh yang ada untuk mempengaruhi situasi sekitar kita. Partisipasi sekecil apapun dibutuhkan oleh negara kita saat ini dan pasti berkenan di hati Tuhan kita. Pengkhotbah mengatakan tali tiga lembar tidak mudah diputuskan. Kerjasama dan membangun jaringan dengan alumni lain akan memperluas pengaruh kita. Pengaruh pribadi yang kecil, jika digabungkan dengan pengaruh alumni lain akan menghasilkan pengaruh yang besar yang mampu mengubah Indonesia.

Posted in Spiritual | Leave a Comment »

KAU TIDAK SENDIRI

Posted by Asken Sinaga on February 21, 2009

Barangkali kita sudah sering mengucapkan atau mendengar kalimat sederhana di atas, kau tidak sendiri. Arti kalimat itu juga sepertinya bukan hal yang asing lagi bagi kita. Biasanya kalimat itu diucapkan untuk menghibur, meneguhkan, memberi semangat orang yang sedang sedih, lemah, atau berputus asa. Arti kalimat itu bisa berbeda tergantung situasi dimana ia digunakan. Beberapa kemungkinan situasi adalah sebagai berikut:

  1. ”Banyak orang di luar sana mengalami hal yang sama, bahkan lebih berat dari permasalahanmu. Mereka juga mengalaminya! Percayalah, KAU TIDAK SENDIRI”.
  2. ”Saya harap kau mempertimbangkan kembali keputusanmu. Pikirkan dampaknya terhadap orang-orang di sekitarmu. Ingatlah, KAU TIDAK SENDIRI”.
  3. ”Ujian hidupmu memang sangat berat. Tapi Tuhan sudah pastikan bahwa ini tidak akan melampaui kekuatanmu. Dia berjanji dan setia pada janjiNya bahwa Dia akan menyertai, memelihara, menolong dan memberi jalan keluar. Dalam melalui ujian ini, KAU TIDAK SENDIRI”
  4. ”Selagi kau jauh di sana, kami tidak akan dapat mengamatimu seperti saat masih tinggal bersama kami. Tetapi ingatlah, dimanapun kau berada, ada Tuhan yang akan selalu mengamatimu. Takutlah senantiasa akan Dia. Kau memang sendirian tetapi KAU TIDAK SENDIRI”.

 

Ada 2 kesamaan yang terdapat dalam keempat situasi di atas. Yang pertama adalah bahwa merasa sendiri itu berakibat buruk. Ia dapat membuat seseorang (1) merasa paling malang di dunia, (2) menjadi egois, (3) berputus asa, atau (4) hidup dalam dosa tersembunyi. Yang kedua adalah bahwa merasa sendiri itu hanyalah sebuah anggapan dan bukan sebuah kenyataan. Pada keempat contoh di atas, orang kepada siapa kalimat itu ditujukan sebenarnya tidak sedang dalam keadaan sendiri. Dia hanya menganggap sedang sendiri, padahal pada kenyataannya tidak. Orang itu  perlu disadarkan dari anggapannya dengan menggunakan kalimat negatif (kontradiktif) yaitu kau tidak sendiri. Sekiranya orang itu sadar, atau berhasil diyakinkan, bahwa dia sebenarnya tidak dalam keadaan sendiri, sangat mungkin dia tidak akan mengalami hal-hal buruk di atas. Dengan kesadaran itu diharapkan: (1) dia tidak akan merasa sebagai orang paling malang di dunia, karena banyak orang mengalami hal yang sama, (2) dia tidak akan egois karena sadar ada orang lain di sekitarnya yang memiliki kepentingan seperti dirinya, (3) dia akan tegar menghadapi masalahnya karena Tuhan pasti menolong, (4) dia akan bersikap sama baiknya ketika dilihat atau tidak dilihat manusia, karena sadar bahwa Allah melihat.

 

Dari 4 contoh situasi di atas, contoh nomor 3 adalah situasi yang paling sering kita alami sebagai orang kristen. Masalah dalam kehidupan kita akan terus ada sampai waktu Tuhan tiba. Di sinilah indahnya persekutuan, kita bisa saling menghibur di dalam Tuhan. Indah, tetapi juga unik. Keunikannya adalah bahwa kita bergantian mengambil peran, kadang kita berperan sebagai orang yang mengucapkan Kau tidak sendiri kepada orang lain, tetapi kadang kala kita berperan sebagai orang yang mendengarkannya dari orang lain (semoga saja kita lebih sering mengambil peran mengucapkannya daripada mendengarkannya, karena dengan demikian berarti kita lebih banyak memberi semangat kepada orang lain dari pada menyita tenaga orang lain untuk menghibur kita). Ketika kita mengucapkannya atau mendengarkannya, kita berada dalam proses membuang anggapan sedang sendiri, dan menyadarkan kita kepada fakta bahwa kita tidak sendiri.

 

Mungkinkah seseorang dalam keadaan benar-benar sendiri, bukan sekedar sedang beranggapan? Sebuah kamus mendefenisikan kata sendiri sebagai: tanpa kehadiran atau bantuan pihak  lain. Dari pengertian tersebut, sepertinya di jaman ini dimana dunia tidak berbatas (borderless) dengan peralatan komunikasinya yang sangat canggih,  tidak bakal ada orang yang benar-benar sendiri, bahkan sekalipun dia menginginkan hal itu! Jaman ini ’memaksa’ kita untuk tidak menjadi sendiri. Menjadi benar-benar sendiri adalah sesuatu yang mustahil! Sekiranya pun, katakanlah melalui berbagai usaha, memungkinkan bagi seseorang untuk benar-benar menjadi sendiri, itu hanya akan berlaku bagi orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Orang kristen tidak mungkin berada dalam keadaan sendiri sebab Tuhan adalah Yang Awal dan Yang Akhir. Tuhan itu ada. Alkitab mencatat bahwa Tuhan itu hadir dan berjanji memelihara umatNya.

 

Ada 2 hal yang dapat kita pahami sekarang, yaitu (1) bahwa sesungguhnya semua hal buruk di atas muncul akibat dari anggapan merasa sendiri saja, dan (2) bahwa faktanya adalah orang kristen tidak mungkin sendiri karena Tuhan telah berjanji untuk menyertai umatnya (lihat Yesaya 41:10). Apakah pemahaman ini akan membantu kita dalam menghadapi permasalahan hidup? Mungkin ya, mungkin tidak, dan mungkin juga ya dan tidak. Mari kita merenungkannya dan mencari jawabannya untuk kita masing-masing dan mengubah pemahaman ini menjadi sebuah keyakinan iman dalam diri kita. Hanya ketika ini telah menjadi sebuah keyakinan iman, bahwa kita tidak pernah sendiri karena Tuhan selalu ada, saat itulah pemahaman ini mengambil perannya dalam membantu kita menghadapai permasalahan hidup. Selamat berjuang karena KAU TIDAK SENDIRI!

 

Posted in Spiritual | Leave a Comment »