BLESSED BLOG

Blessed to be a blessing through daily life

Archive for September, 2009

Ordinary people and the ordinary flu

Posted by Asken Sinaga on September 15, 2009

(published on The Jakarta Post, August 10 2009)

In classic psychological theory, it is known that knowledge (understanding) and behavior (action) are two strongly related traits. Someone’s understanding of something will affect their action regarding it. It is understanding that drives action. This simple theory seems better able to answer any confusion or disappointment about government action on the H1N1 influenza pandemic.

People are confused, disappointed and even extremely angry with the action taken and statements made, particularly those irrelevant and underestimating remarks continuously made by the ministry. Instead of focusing on preventive and curative action, they spend so many resources in spreading (unintentionally?) unproductive information. We know now that it is the ministry’s understanding of the situation that makes them act the way they do.

A few days ago, the Health Minister said the H1N1 virus is no different from the ordinary flu. This must be based on her expert knowledge and again, it is this knowledge that encouraged her to say what she did. If this is true, then her claim that 90 percent of Indonesian people know how to avoid the H1N1 because they are familiar with the ordinary flu must be true as well. But is it true that they are not different? and is she right that 90 percent of Indonesian people know what to do?

As an ordinary person who reads the papers and is seeing the progress of the pandemic and the government’s response to it, I would say the minister was not right. My reason is so simple and ordinary: what the minister has done did not reflect what she said.

Through the official website, the ministry announced that the institution made preparations for this flu, including supporting the port health office (by giving them thermal scanners and health alert cards to be completed by incoming passengers), preparing referral hospitals, supplying logistics, improving contact investigation, ILI surveillance, laboratory, communication, education and information, as well as conforming to International Health Regulations (IHR).

What do these actions mean? If H1N1 really wasn’t any different, why would they take these special measures? Why didn’t they keep silent just like how they do in facing the ordinary flu? It really means something. It means that H1N1 is different from the ordinary flu. Even a 5th grade student knows this logic!

Biologically, they are indeed different. The ordinary flu is most often an infection of one of the 99 known serotypes of rhinovirus, a type of picornavirus. Around 30-50 percent of colds are caused by rhinoviruses. Other cold causing viruses include coronavirus, human parainfluenza viruses, human respiratory syncytial virus, adenoviruses, enteroviruses and metapneumovirus. About 5-15 percent are caused by influenza viruses.

The influenza virus is a RNA virus of the family Orthomyxoviridae of which there are three genera: Influenzavirus A, Influenzavirus B and Influenzavirus C. Some serotypes of Influenzavirus A are: H1N1(which caused Spanish flu in 1918 and the 2009 flu pandemic), H2N2 (which caused the Asian Flu in 1957), H3N2 (which caused the Hong Kong Flu in 1968), H5N1 (the current bird flu), H7N7 (which has unusual zoonotic potential), H1N2 (endemic in humans and pigs), H9N2, H7N2, H7N3 and H10N7. They are categorized by scientists into many groups and given many names according to their different characteristics.

The minister could have intended her statement to discourage people from panicking. But a minister should be wiser than that when trying to bring calm.

Indonesian people are heterogenic in many ways, including in their way of understanding. Her statement could be counterproductive for some people. The assumption that H1N1 is no different from the ordinary flu will affect how people react.

They might treat it as the flu they know and do nothing different. Highly aware people with a and good understanding of influenza viruses will acting appropriately as usual, but ordinary people who don’t have that understanding will act inappropriately as usual.

I am not one to give advice to the experts, but I ask for wisdom and support from the government. What can calm the people down is honest and comprehensive information about this pandemic and step-by-step guidance on how to avoid infection and what to do if we are infected.

What we expect is that people can get the vaccination like in other countries. What we need is a guarantee that the antiviral medicines are available at drugstores at an affordable price at any time. What we do not want is to get confused and disappointed by the government’s confusing statements.

The best thing the government could do to reduce people’s confusion is to stop being confused itself, otherwise we will become a confused and confusing country.

Posted in Sosial | Leave a Comment »

Rendah Hati: Antara Karakter dan Sikap

Posted by Asken Sinaga on September 15, 2009

(telah diterbitkan di Warta PAK FMIPA Medan edisi September 2009)

Kerendah-hatian adalah sebuah karakter (sifat) sekaligus sebuah sikap (perilaku). Ia disebut sifat karena ia berada di wilayah pikiran dan hati yang berperan besar dalam menghasilkan perilaku manusia. Ia disebut perilaku karena ia harus terwujud dalam perilaku-perilaku tertentu yang oleh khalayak umum diakui sebagai tanda-tanda kerendah-hatian. Kerendah-hatian sejati muncul apabila keduanya menyatu dan saling melengkapi seperti 2 sisi pada satu koin. Kita tidak dapat mengatakan seseorang itu rendah hati apabila kita tidak melihat perilaku-perilaku rendah hati dalam hidupnya. Sebaliknya, kita juga tidak serta merta dapat menyimpulkan bahwa seseorang itu rendah hati melalui perilaku-perilakunya karena ada kemungkinan sikapnya adalah rekayasa dan bukan merupakan dorongan hatinya.

Saya mencoba mencari kata “rendah hati” dalam Alkitab dan dengan bantuan perangkat lunak Alkitab saya menemukan 22 ayat dalam PL dan PB yang memakai kata itu. Selanjutnya juga ditampilkan 5 ayat yang menggunakan “kerendahan hati”, 2 ayat yang menggunakan “merendahkan hati” dan 38 ayat yang menggunakan “merendahkan diri”.

Alkitab berbahasa Inggeris (versi King James) menggunakan beberapa istilah untuk kata “rendah hati”, yaitu meek (meekness), lowly (lowliness), humble (humility), afflict, cast down, dan courteous. Kata-kata yang paling sering dipakai adalah meek, humble dan lowly sedangkan yang lainnya hanya sesekali digunakan.

Merriam-Webster Online Dictionary menterjemahkan meek sebagai mengalami luka dengan kesabaran dan tanpa rasa pedih di hati; humble diartikan sebagai tidak merasa terhormat, tidak sombong dan tidak arogan; lowly adalah berada dalam sikap humble dan meek. Lebih lanjut tentang kata humility, disebutkan bahwa kata itu berasal dari bahasa Latin “humilitas“, sebuah kata benda yang berhubungan dengan kata sifat “humilis“, yang diterjemahkan tidak hanya sebagai “humble“, tetapi juga sebagai “rendah”, “berasal dari bumi” dan “tidak dihormati”.

Pengertian di atas tidak langsung membuat kita memahami makna sikap rendah hati. Ini tidak mengherankan karena arti kata adalah berbeda dengan makna kata. Arti adalah tentang harfiah dan mengacu kepada referensi yang digunakan sedangkan makna lebih merupakan tentang pemahaman kita berdasarkan nilai-nilai dan keyakinan yang telah kita miliki. Oleh karena itu pemahaman orang atas “rendah hati” bisa berbeda-beda sebab banyak sekali nilai-nilai dan keyakinan yang ada di masyarakat saat ini. Bahkan dalam diri sesama orang Kristen sendiri, makna “rendah hati” bisa tidak sama karena kemungkinan adanya nilai-nilai lain di samping nilai-nilai Firman Tuhan dalam diri mereka.

Di tengah jaman yang penuh kompetisi seperti sekarang ini, adalah sangat sulit untuk menemukan orang yang rendah hati bahkan mungkin telah ada keraguan (kalau bukan keyakinan) bahwa kerendah-hatian sudah tidak relevan lagi karena dianggap sebagai penghalang keberhasilan sehingga “rendah hati” ditinggalkan oleh banyak orang. Keinginan semua orang untuk menjadi “seseorang” dan penolakan semua orang menjadi “bukan siapa-siapa” diduga menjadi penyebabnya. Ada desakan yang sangat kuat dalam diri setiap orang untuk menjadi penting dan berarti serta mendapat pengakuan dari lingkungan dan masyarakat dan akibatnya terjadi persaingan yang sangat ketat untuk menjadi penting dan berarti itu. Situasi bersaing inilah yang menurut Paul T. P. Wong, Ph.D., C. Psych. President, International Network on Personal Meaning Coquitlam, B.C., Canada, dalam sebuah esainya sebagai hal yang membuat orang tidak menyukai dan sulit memahami makna sebenarnya dari kerendah-hatian. Persaingan ini mendorong orang berlomba-lomba untuk menjadi yang utama, dan berlomba-lomba mencegah orang lain menjadi yang utama. Semua orang ingin menjadi nomor 1. Sementara seperti diulas di atas, makna rendah rendah hati mengandung kerelaan untuk menjadikan diri rendah, tidak dihormati dan “bukan siapa-siapa”.

Pandangan Kristen tentang kerendah-hatian sangat jelas. Yang menjadi dasar sikap rendah hati dalam pandangan Kristen adalah diri Kristus sendiri mulai dari kerendahan dalam kelahiranNya di kandang domba, kerendahan dalam sikap sehari-hari di masa hidupNya dan akhirnya kerendahan dalam pengorbananNya di Kayu Salib. Kerendahan hati Kristiani juga bersifat paradoks sebagaimana Kristus katakan: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23: 11-12). Yakobus menegaskan ini dalam Yak 4: 10: “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu”.

Perhatikan bahwa Alkitab sesungguhnya mengakui adanya keinginan alamiah manusia untuk menjadi yang utama, untuk menjadi “seseorang” dan untuk menjadi berarti dan penting. Hanya memang untuk mencapainya, Alkitab menawarkan cara yang tidak populer yaitu dengan cara merendahkan diri dan mengosongkan diri sedangkan dunia menawarkan cara-cara keangkuhan yang sering kali dibungkus dengan istilah-istilah indah seperti aktualisasi diri, penemuan jati diri, optimalisasi diri, meraih impian, menjadi berarti, dll.

Menarik untuk diperhatikan bahwa sebagaimana disebutkan di atas kata “merendahkan diri” digunakan sebanyak 38 kali dalam Alkitab dan menjadi yang paling banyak di antara kata-kata senada yang lain. Kalau disimak secara lebih dalam, pemakaian kata “merendahkan diri” itu menyiratkan beberapa pengertian. Pertama, ia bersifat aktif dan bukan pasif. Artinya kita diminta untuk dengan sadar merendahkan diri dan dengan demikian diperlukan daya dan upaya dari kita untuk membuat diri menjadi rendah. Kedua, terkesan bahwa manusia secara naluriah dan alami selalu meninggikan diri sehingga perlu diperintahkan Tuhan untuk segera menghentikannya dan berbalik merendahkan diri. Ketiga, tersirat arti bahwa naluri meninggikan diri itu tidak baik sehingga Tuhan perlu perintahkan manusia untuk meningglkannya dan selanjutnya memerintahkan manusia untuk beralih kepada sesuatu yang baik yaitu merendahkan diri.

Hal lain yang menarik dari pencarian saya di atas adalah bahwa menurut Alkitab ada beberapa upah atau ganjaran yang akan kita peroleh jika kita rendah hati atau merendahkan diri, yaitu: makan dan kenyang, jalannya dibimbing Tuhan, bersukacita, mewarisi negeri, kesejahteraannya berlimpah-limpah, dimahkotai dengan keselamatan, dikasihani Tuhan, memiliki hikmat, menerima pujian, semangatnya dihidupkan oleh Tuhan, terlindung pada hari kemurkaan Tuhan, dibiarkan hidup, dihibur Tuhan, diganjar dengan kekayaan, kehormatan dan kehidupan.

Saya terkejut dengan bacaan Firman Tuhan ini. Semua ganjaran sikap rendah hati di atas ternyata adalah hal-hal yang menjadi tujuan hidup manusia pada umumnya. Coba perhatikan sekali lagi satu persatu ganjaran atau upah itu. Benar bukan, bahwa hal-hal itulah yang kita cari dalam hidup ini? Betapa “sederhana” ternyata untuk memperoleh kebahagiaan hidup. Hanya dengan bersikap rendah hati dan merendahkan diri di hadapan Tuhan, semua itu bisa kita dapatkan sebagai upah dari Bapa di Sorga.

Bagaimana menjadi rendah hati? Kita semua sedang belajar untuk itu. Perenungan yang terus-menerus akan anugerah keselamatan yang sudah Bapa berikan melalui Yesus Kristus kepada kita seharusnya bisa menjadi dasar yang kuat sekali untuk kita menjadi rendah hati. Kita “bukan siapa-siapa” tetapi kita diselamatkanNya. Kesadaran ini seharusnya membuat kita tak henti-hentinya bersyukur dan tak bosan-bosannya merendahkan diri. Selama kita meyakini bahwa menjadi yang utama di antara orang lain adalah tujuan hidup, selama itu juga kita akan gagal menjadi rendah hati.

Memang, banyak sekali sikap dan tindakan yang dapat dikategorikan sebagi sikap rendah hati. Tetapi bagi saya mendaftarkan sikap-sikap itu dan memasukkannya dalam “Daftar Untuk Dikerjakan” adalah kurang tepat karena itu menyebabkan kita tidak “hidup” dalam melakukannya dan pelaksanaannyapun akan bersifat sementara saja. Pemeliharaan dan penguatan sifat rendah hati di dalam pikiran dan hatilah yang jauh lebih penting. Jika sifat itu tumbuh dengan baik, ia akan memahami mengapa daftar itu ada dan dengan sendirinya akan dapat menambahkan sikap-sikap lain ke dalam daftar itu dan pelaksanaannyapun akan bersifat permanen. Namun demikian, tidak ada salahnya jika kita coba melihat beberapa sikap yang baik untuk dilatih sambil kita terus berjuang merendahkan diri di dalam pikiran dan hati.

Wong berpandangan bahwa ada 2 pendekatan yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan dan memelihara kerendah-hatian yaitu pendekatan makro dan pendekatan mikro. Pada tingkat makro, kita perlu memegang teguh keyakinan iman kita melalui beberapa sikap berikut:

  • Kesadaran diri bahwa kita pasti mati
  • Kepercayaan akan kehidup setelah kematian
  • Menyadari bahwa kita tidak sempurna dan melakukan keasalahan
  • Menyadari kebutuhan untuk dipulihkan dan disucikan
  • Menyadari kebutuhan pertolongan dan tuntunan
  • Percaya kepada kuasa roh
  • Percaya akan kebutuhan tunduk kepada kekuatan yang lebih tinggi

Pada tingkat mikro, kita perlu mengembangkan kebiasaan sikap kerendah-hatian dalam keseharian kita. Ini meliputi beberapa latihan berikut:

  • Mengakui kesalahan
  • Menerima perbaikan dan umpan balik dengan hati lapang
  • Menghindari mengkritik orang lain
  • Memaafkan orang yang bersalah
  • Meminta maaf kepada orang lain jika kita bersalah
  • Menanggung ketidakadilan dengan kesabaran dan semangat mengampuni
  • Memikirkan dan membicarakan hal-hal yang baik tentang orang lain
  • Bersukacita atas keberhasilan orang lain
  • Menghitung berkat-berkat yang diterima, baik atau buruk
  • Selalu mencari kesempatan untuk melayani orang lain
  • Rela untuk tetap tidak diingat ketika menolong orang lain
  • Menunjukkan rasa syukur kasih atas keberhasilan yang dicapai
  • Memberikan pujian kepada orang lain yang berperan dalam keberhasilan kita
  • Menganggap keberhasilan sebagai sebuah tanggung jawab untuk melakukan lebih lagi kepada orang lain
  • Bersedia belajar dari kegagalan
  • Mengambil tanggunjawab atas kegagalan yang terjadi
  • Menerima keterbatasan dan lingkungan kita
  • Menerima kenyataan sosial bahwa ada diskriminasi dan ketidakadilan
  • Memperlakukan orang lain dengan rasa hormat tidak peduli status sosialnya
  • Menikmati status rendah menjadi orang luar dan bukan siapa-siapa

Daftar yang banyak itu mengarah ke satu prinsip dasar yaitu bahwa rendah hati adalah tentang mengutamakan orang lain dan menempatkan diri sendiri di posisi yang lebih rendah daripada orang lain. Rendah hati adalah tentang menjadi pelayan orang lain dan “mengosongkan” diri sendiri dan menjadi “bukan siapa-siapa”.

Menjadi rendah hati adalah perjuangan seumur hidup. Namun kita tidak perlu khawatir karena kita mempunyai Tuhan yang rendah hati dan berjanji menolong kita menjadi rendah hati seperti Dia. Akhirnya, dengan meminjam istilah Wong, dalam berhadapan dengan kompetisi dunia yang menggoda kita untuk meninggikan diri, kita perlu mencoba merenungkan kalimat indah ini setiap hari: I am glad that I am nobody!

Posted in Spiritual | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.