BLESSED BLOG

Blessed to be a blessing through daily life

Ordinary people and the ordinary flu

Posted by Asken Sinaga on September 15, 2009

(published on The Jakarta Post, August 10 2009)

In classic psychological theory, it is known that knowledge (understanding) and behavior (action) are two strongly related traits. Someone’s understanding of something will affect their action regarding it. It is understanding that drives action. This simple theory seems better able to answer any confusion or disappointment about government action on the H1N1 influenza pandemic.

People are confused, disappointed and even extremely angry with the action taken and statements made, particularly those irrelevant and underestimating remarks continuously made by the ministry. Instead of focusing on preventive and curative action, they spend so many resources in spreading (unintentionally?) unproductive information. We know now that it is the ministry’s understanding of the situation that makes them act the way they do.

A few days ago, the Health Minister said the H1N1 virus is no different from the ordinary flu. This must be based on her expert knowledge and again, it is this knowledge that encouraged her to say what she did. If this is true, then her claim that 90 percent of Indonesian people know how to avoid the H1N1 because they are familiar with the ordinary flu must be true as well. But is it true that they are not different? and is she right that 90 percent of Indonesian people know what to do?

As an ordinary person who reads the papers and is seeing the progress of the pandemic and the government’s response to it, I would say the minister was not right. My reason is so simple and ordinary: what the minister has done did not reflect what she said.

Through the official website, the ministry announced that the institution made preparations for this flu, including supporting the port health office (by giving them thermal scanners and health alert cards to be completed by incoming passengers), preparing referral hospitals, supplying logistics, improving contact investigation, ILI surveillance, laboratory, communication, education and information, as well as conforming to International Health Regulations (IHR).

What do these actions mean? If H1N1 really wasn’t any different, why would they take these special measures? Why didn’t they keep silent just like how they do in facing the ordinary flu? It really means something. It means that H1N1 is different from the ordinary flu. Even a 5th grade student knows this logic!

Biologically, they are indeed different. The ordinary flu is most often an infection of one of the 99 known serotypes of rhinovirus, a type of picornavirus. Around 30-50 percent of colds are caused by rhinoviruses. Other cold causing viruses include coronavirus, human parainfluenza viruses, human respiratory syncytial virus, adenoviruses, enteroviruses and metapneumovirus. About 5-15 percent are caused by influenza viruses.

The influenza virus is a RNA virus of the family Orthomyxoviridae of which there are three genera: Influenzavirus A, Influenzavirus B and Influenzavirus C. Some serotypes of Influenzavirus A are: H1N1(which caused Spanish flu in 1918 and the 2009 flu pandemic), H2N2 (which caused the Asian Flu in 1957), H3N2 (which caused the Hong Kong Flu in 1968), H5N1 (the current bird flu), H7N7 (which has unusual zoonotic potential), H1N2 (endemic in humans and pigs), H9N2, H7N2, H7N3 and H10N7. They are categorized by scientists into many groups and given many names according to their different characteristics.

The minister could have intended her statement to discourage people from panicking. But a minister should be wiser than that when trying to bring calm.

Indonesian people are heterogenic in many ways, including in their way of understanding. Her statement could be counterproductive for some people. The assumption that H1N1 is no different from the ordinary flu will affect how people react.

They might treat it as the flu they know and do nothing different. Highly aware people with a and good understanding of influenza viruses will acting appropriately as usual, but ordinary people who don’t have that understanding will act inappropriately as usual.

I am not one to give advice to the experts, but I ask for wisdom and support from the government. What can calm the people down is honest and comprehensive information about this pandemic and step-by-step guidance on how to avoid infection and what to do if we are infected.

What we expect is that people can get the vaccination like in other countries. What we need is a guarantee that the antiviral medicines are available at drugstores at an affordable price at any time. What we do not want is to get confused and disappointed by the government’s confusing statements.

The best thing the government could do to reduce people’s confusion is to stop being confused itself, otherwise we will become a confused and confusing country.

Posted in Sosial | Leave a Comment »

Rendah Hati: Antara Karakter dan Sikap

Posted by Asken Sinaga on September 15, 2009

(telah diterbitkan di Warta PAK FMIPA Medan edisi September 2009)

Kerendah-hatian adalah sebuah karakter (sifat) sekaligus sebuah sikap (perilaku). Ia disebut sifat karena ia berada di wilayah pikiran dan hati yang berperan besar dalam menghasilkan perilaku manusia. Ia disebut perilaku karena ia harus terwujud dalam perilaku-perilaku tertentu yang oleh khalayak umum diakui sebagai tanda-tanda kerendah-hatian. Kerendah-hatian sejati muncul apabila keduanya menyatu dan saling melengkapi seperti 2 sisi pada satu koin. Kita tidak dapat mengatakan seseorang itu rendah hati apabila kita tidak melihat perilaku-perilaku rendah hati dalam hidupnya. Sebaliknya, kita juga tidak serta merta dapat menyimpulkan bahwa seseorang itu rendah hati melalui perilaku-perilakunya karena ada kemungkinan sikapnya adalah rekayasa dan bukan merupakan dorongan hatinya.

Saya mencoba mencari kata “rendah hati” dalam Alkitab dan dengan bantuan perangkat lunak Alkitab saya menemukan 22 ayat dalam PL dan PB yang memakai kata itu. Selanjutnya juga ditampilkan 5 ayat yang menggunakan “kerendahan hati”, 2 ayat yang menggunakan “merendahkan hati” dan 38 ayat yang menggunakan “merendahkan diri”.

Alkitab berbahasa Inggeris (versi King James) menggunakan beberapa istilah untuk kata “rendah hati”, yaitu meek (meekness), lowly (lowliness), humble (humility), afflict, cast down, dan courteous. Kata-kata yang paling sering dipakai adalah meek, humble dan lowly sedangkan yang lainnya hanya sesekali digunakan.

Merriam-Webster Online Dictionary menterjemahkan meek sebagai mengalami luka dengan kesabaran dan tanpa rasa pedih di hati; humble diartikan sebagai tidak merasa terhormat, tidak sombong dan tidak arogan; lowly adalah berada dalam sikap humble dan meek. Lebih lanjut tentang kata humility, disebutkan bahwa kata itu berasal dari bahasa Latin “humilitas“, sebuah kata benda yang berhubungan dengan kata sifat “humilis“, yang diterjemahkan tidak hanya sebagai “humble“, tetapi juga sebagai “rendah”, “berasal dari bumi” dan “tidak dihormati”.

Pengertian di atas tidak langsung membuat kita memahami makna sikap rendah hati. Ini tidak mengherankan karena arti kata adalah berbeda dengan makna kata. Arti adalah tentang harfiah dan mengacu kepada referensi yang digunakan sedangkan makna lebih merupakan tentang pemahaman kita berdasarkan nilai-nilai dan keyakinan yang telah kita miliki. Oleh karena itu pemahaman orang atas “rendah hati” bisa berbeda-beda sebab banyak sekali nilai-nilai dan keyakinan yang ada di masyarakat saat ini. Bahkan dalam diri sesama orang Kristen sendiri, makna “rendah hati” bisa tidak sama karena kemungkinan adanya nilai-nilai lain di samping nilai-nilai Firman Tuhan dalam diri mereka.

Di tengah jaman yang penuh kompetisi seperti sekarang ini, adalah sangat sulit untuk menemukan orang yang rendah hati bahkan mungkin telah ada keraguan (kalau bukan keyakinan) bahwa kerendah-hatian sudah tidak relevan lagi karena dianggap sebagai penghalang keberhasilan sehingga “rendah hati” ditinggalkan oleh banyak orang. Keinginan semua orang untuk menjadi “seseorang” dan penolakan semua orang menjadi “bukan siapa-siapa” diduga menjadi penyebabnya. Ada desakan yang sangat kuat dalam diri setiap orang untuk menjadi penting dan berarti serta mendapat pengakuan dari lingkungan dan masyarakat dan akibatnya terjadi persaingan yang sangat ketat untuk menjadi penting dan berarti itu. Situasi bersaing inilah yang menurut Paul T. P. Wong, Ph.D., C. Psych. President, International Network on Personal Meaning Coquitlam, B.C., Canada, dalam sebuah esainya sebagai hal yang membuat orang tidak menyukai dan sulit memahami makna sebenarnya dari kerendah-hatian. Persaingan ini mendorong orang berlomba-lomba untuk menjadi yang utama, dan berlomba-lomba mencegah orang lain menjadi yang utama. Semua orang ingin menjadi nomor 1. Sementara seperti diulas di atas, makna rendah rendah hati mengandung kerelaan untuk menjadikan diri rendah, tidak dihormati dan “bukan siapa-siapa”.

Pandangan Kristen tentang kerendah-hatian sangat jelas. Yang menjadi dasar sikap rendah hati dalam pandangan Kristen adalah diri Kristus sendiri mulai dari kerendahan dalam kelahiranNya di kandang domba, kerendahan dalam sikap sehari-hari di masa hidupNya dan akhirnya kerendahan dalam pengorbananNya di Kayu Salib. Kerendahan hati Kristiani juga bersifat paradoks sebagaimana Kristus katakan: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23: 11-12). Yakobus menegaskan ini dalam Yak 4: 10: “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu”.

Perhatikan bahwa Alkitab sesungguhnya mengakui adanya keinginan alamiah manusia untuk menjadi yang utama, untuk menjadi “seseorang” dan untuk menjadi berarti dan penting. Hanya memang untuk mencapainya, Alkitab menawarkan cara yang tidak populer yaitu dengan cara merendahkan diri dan mengosongkan diri sedangkan dunia menawarkan cara-cara keangkuhan yang sering kali dibungkus dengan istilah-istilah indah seperti aktualisasi diri, penemuan jati diri, optimalisasi diri, meraih impian, menjadi berarti, dll.

Menarik untuk diperhatikan bahwa sebagaimana disebutkan di atas kata “merendahkan diri” digunakan sebanyak 38 kali dalam Alkitab dan menjadi yang paling banyak di antara kata-kata senada yang lain. Kalau disimak secara lebih dalam, pemakaian kata “merendahkan diri” itu menyiratkan beberapa pengertian. Pertama, ia bersifat aktif dan bukan pasif. Artinya kita diminta untuk dengan sadar merendahkan diri dan dengan demikian diperlukan daya dan upaya dari kita untuk membuat diri menjadi rendah. Kedua, terkesan bahwa manusia secara naluriah dan alami selalu meninggikan diri sehingga perlu diperintahkan Tuhan untuk segera menghentikannya dan berbalik merendahkan diri. Ketiga, tersirat arti bahwa naluri meninggikan diri itu tidak baik sehingga Tuhan perlu perintahkan manusia untuk meningglkannya dan selanjutnya memerintahkan manusia untuk beralih kepada sesuatu yang baik yaitu merendahkan diri.

Hal lain yang menarik dari pencarian saya di atas adalah bahwa menurut Alkitab ada beberapa upah atau ganjaran yang akan kita peroleh jika kita rendah hati atau merendahkan diri, yaitu: makan dan kenyang, jalannya dibimbing Tuhan, bersukacita, mewarisi negeri, kesejahteraannya berlimpah-limpah, dimahkotai dengan keselamatan, dikasihani Tuhan, memiliki hikmat, menerima pujian, semangatnya dihidupkan oleh Tuhan, terlindung pada hari kemurkaan Tuhan, dibiarkan hidup, dihibur Tuhan, diganjar dengan kekayaan, kehormatan dan kehidupan.

Saya terkejut dengan bacaan Firman Tuhan ini. Semua ganjaran sikap rendah hati di atas ternyata adalah hal-hal yang menjadi tujuan hidup manusia pada umumnya. Coba perhatikan sekali lagi satu persatu ganjaran atau upah itu. Benar bukan, bahwa hal-hal itulah yang kita cari dalam hidup ini? Betapa “sederhana” ternyata untuk memperoleh kebahagiaan hidup. Hanya dengan bersikap rendah hati dan merendahkan diri di hadapan Tuhan, semua itu bisa kita dapatkan sebagai upah dari Bapa di Sorga.

Bagaimana menjadi rendah hati? Kita semua sedang belajar untuk itu. Perenungan yang terus-menerus akan anugerah keselamatan yang sudah Bapa berikan melalui Yesus Kristus kepada kita seharusnya bisa menjadi dasar yang kuat sekali untuk kita menjadi rendah hati. Kita “bukan siapa-siapa” tetapi kita diselamatkanNya. Kesadaran ini seharusnya membuat kita tak henti-hentinya bersyukur dan tak bosan-bosannya merendahkan diri. Selama kita meyakini bahwa menjadi yang utama di antara orang lain adalah tujuan hidup, selama itu juga kita akan gagal menjadi rendah hati.

Memang, banyak sekali sikap dan tindakan yang dapat dikategorikan sebagi sikap rendah hati. Tetapi bagi saya mendaftarkan sikap-sikap itu dan memasukkannya dalam “Daftar Untuk Dikerjakan” adalah kurang tepat karena itu menyebabkan kita tidak “hidup” dalam melakukannya dan pelaksanaannyapun akan bersifat sementara saja. Pemeliharaan dan penguatan sifat rendah hati di dalam pikiran dan hatilah yang jauh lebih penting. Jika sifat itu tumbuh dengan baik, ia akan memahami mengapa daftar itu ada dan dengan sendirinya akan dapat menambahkan sikap-sikap lain ke dalam daftar itu dan pelaksanaannyapun akan bersifat permanen. Namun demikian, tidak ada salahnya jika kita coba melihat beberapa sikap yang baik untuk dilatih sambil kita terus berjuang merendahkan diri di dalam pikiran dan hati.

Wong berpandangan bahwa ada 2 pendekatan yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan dan memelihara kerendah-hatian yaitu pendekatan makro dan pendekatan mikro. Pada tingkat makro, kita perlu memegang teguh keyakinan iman kita melalui beberapa sikap berikut:

  • Kesadaran diri bahwa kita pasti mati
  • Kepercayaan akan kehidup setelah kematian
  • Menyadari bahwa kita tidak sempurna dan melakukan keasalahan
  • Menyadari kebutuhan untuk dipulihkan dan disucikan
  • Menyadari kebutuhan pertolongan dan tuntunan
  • Percaya kepada kuasa roh
  • Percaya akan kebutuhan tunduk kepada kekuatan yang lebih tinggi

Pada tingkat mikro, kita perlu mengembangkan kebiasaan sikap kerendah-hatian dalam keseharian kita. Ini meliputi beberapa latihan berikut:

  • Mengakui kesalahan
  • Menerima perbaikan dan umpan balik dengan hati lapang
  • Menghindari mengkritik orang lain
  • Memaafkan orang yang bersalah
  • Meminta maaf kepada orang lain jika kita bersalah
  • Menanggung ketidakadilan dengan kesabaran dan semangat mengampuni
  • Memikirkan dan membicarakan hal-hal yang baik tentang orang lain
  • Bersukacita atas keberhasilan orang lain
  • Menghitung berkat-berkat yang diterima, baik atau buruk
  • Selalu mencari kesempatan untuk melayani orang lain
  • Rela untuk tetap tidak diingat ketika menolong orang lain
  • Menunjukkan rasa syukur kasih atas keberhasilan yang dicapai
  • Memberikan pujian kepada orang lain yang berperan dalam keberhasilan kita
  • Menganggap keberhasilan sebagai sebuah tanggung jawab untuk melakukan lebih lagi kepada orang lain
  • Bersedia belajar dari kegagalan
  • Mengambil tanggunjawab atas kegagalan yang terjadi
  • Menerima keterbatasan dan lingkungan kita
  • Menerima kenyataan sosial bahwa ada diskriminasi dan ketidakadilan
  • Memperlakukan orang lain dengan rasa hormat tidak peduli status sosialnya
  • Menikmati status rendah menjadi orang luar dan bukan siapa-siapa

Daftar yang banyak itu mengarah ke satu prinsip dasar yaitu bahwa rendah hati adalah tentang mengutamakan orang lain dan menempatkan diri sendiri di posisi yang lebih rendah daripada orang lain. Rendah hati adalah tentang menjadi pelayan orang lain dan “mengosongkan” diri sendiri dan menjadi “bukan siapa-siapa”.

Menjadi rendah hati adalah perjuangan seumur hidup. Namun kita tidak perlu khawatir karena kita mempunyai Tuhan yang rendah hati dan berjanji menolong kita menjadi rendah hati seperti Dia. Akhirnya, dengan meminjam istilah Wong, dalam berhadapan dengan kompetisi dunia yang menggoda kita untuk meninggikan diri, kita perlu mencoba merenungkan kalimat indah ini setiap hari: I am glad that I am nobody!

Posted in Spiritual | Leave a Comment »

PEDULI BANGSA DAN NEGARA: Sebuah ukuran kedewasaan rohani

Posted by Asken Sinaga on July 15, 2009

(Telah diterbitkan di Warta PAK FMIPA Medan)

Dalam teori dua kerajaannya, Marthin Luther menggambarkan bahwa negara dan gereja memiliki kewenangan yang berbeda. Negara mempunyai wewenang dalam hal kesejahteraan, sedangkan gereja mempunyai wewenang dalam hal kerohanian. Gereja tidak boleh melawan pemerintah, kecuali negara mencampuri urusan gereja dalam wewenang kerohanian. Gereja dapat melawan negara demi ketaatan pada Allah apabila negara bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan kewajibannya. Peran sosial gereja kurang ditekankan dalam pandangan Luther, bahkan hubungan antara negara dan gereja cenderung dipisahkan secara total. Akibatnya, gereja menjadi pasif dan tidak peduli dengan hal-hal dunia yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya juga.

Menurut Calvin negara ada karena manusia telah jatuh ke dalam dosa. Namun, walaupun Calvin melihat negara secara negatif, ia percaya bahwa negara diperlukan agar tatanan kehidupan menjadi teratur dan lebih baik. Berbeda dengan Luther, Calvin berpendapat bahwa apabila negara menyalahgunakan kekuasaannya, baik dalam hal kerohanian maupun dunia, rakyat boleh melawannya. Jadi, Calvin tidak memisahkan negara dengan agama secara total; ia mengakui pemisahan tetapi tidak ada keterpisahan. Pandangan Calvin ini didasarkan oleh pemahaman bahwa gereja dan negara memperoleh wewenangnya dari Allah yang satu, bagi dunia yang satu dan kemanusiaan yang satu. Pemerintahan sipil merupakan sesuatu yang dibutuhkan karena dosa masih merajalela. Negara ada karena manusia cenderung berbuat kejahatan, bahkan di dalam masyarakat Kristen sendiri banyak orang yang tidak menjadi Kristen yang sejati.

Pandangan Calvin lebih diterima oleh kalangan Kristen secara umum termasuk oleh pelayanan mahasiswa dan alumni yang kita miliki. Salah satu misi dari pelayanan mahasiswa adalah agar alumni yang dihasilkan menjadi garam dan terang bagi bangsa dan negara. Kita bersyukur karena bisa melihat dan mendengar bagaimana alumni telah memberi dampak positif di berbagai aspek kehidupan di negara Indonesia tercinta ini. Sebaliknya, kita juga merasa sedih sebab masih sangat sering kita melihat dan mendengar bahwa alumni tidak berbuat apa-apa meskipun mereka memiliki kesempatan dan pengaruh untuk melakukan perubahan.

Binsar A. Hutabarat dalam tulisannya di Jurnal Teologi Stulos berjudul Negara Menurut Perjanjian Lama menyimpulkan bahwa hal yang menghambat aktivitas orang Kristen dalam negara adalah adanya penekanan yang terlalu berlebihan mengenai kewarganegaraan surga. Tidak sedikit orang Kristen yang berpikir bahwa karena mereka bukan warga negara dunia tetapi warga negara surga, maka mereka tidak perlu menghabiskan waktu untuk memberikan kontribusi positif pada negara. Sekedar menjadi warga negara yang baik saja sudahlah cukup. Orang Kristen bahkan banyak yang merasa tabu untuk turut serta dalam pembangunan negara secara khusus dalam politik praktis. Bagi mereka politik sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tanpa moral.

Pendapat Hutabarat ini bisa jadi benar untuk beberapa kalangan, tetapi saya tidak yakin kalau ini jugalah yang menjadi penyebab kurangnya partisipasi alumni Kristen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengalaman merasakan pelayanan sejak masih menjadi mahasiswa dan setelah menjadi alumni serta pengamatan terhadap program-program pembinaan yang ada saat ini di persekutuan-persekutuan mahasiswa dan alumni, membuat saya meragukan pendapat itu.  Keseimbangan pengajaran tentang perkara dunia dan rohani saya rasakan sudah sangat baik, termasuk dalam hal peranan orang Kristen (gereja) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengajaran bahwa kita adalah warga surga (people of the Kingdom) yang ada dunia untuk menghadirkan kerjaan surga di dunia melalui berbagai aspek kehidupan, menurut hemat saya adalah thema utama program pelayanan mahasiswa dan alumni sejak dulu, sekarang dan di masa yang akan datang.

Beberapa tahun yang lalu, sewaktu masih menjadi pengurus Persekutuan Alumni Kristen (PAK) Perkantas Medan, saya berkesempatan melakukan berbagai pertemuan dengan beberapa persekutuan alumni yang ada di kota Medan. Tujuannya adalah untuk saling berbagi rencana program dan sekiranya mungkin untuk menyelaraskan program-program sehingga tidak saling tumpang tindih, sebaliknya agar diperoleh program-program yang saling menguatkan sehingga kekuatan pelayanan menjadi lebih besar akibat adanya sinergi. Dari komunikasi yang ada saya menemukan bahwa pada dasarnya semua PAK memiliki misi yang sama yaitu untuk menghasilkan alumni yag menjadi berkat (garam dan terang) bagi pekerjaan, keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara dan dunia. Tujuan ini malahan secara tegas tertulis dalam pernyataan visi, misi atau anggaran dasar organisasi. Yang menarik adalah bahwa kalimat atau pernyataan visi dan misi dari beberapa persekutuan itu selalu memiliki urutan atau pola yang sama, yaitu menjadi garam dan terang bagi pekerjaan, keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara (serta dunia).

Keunikan urutan ini semakin menarik perhatian saya karena beberapa pengalaman dan pengamatan menunjukkan bahwa alumni Kristen menghadapai pergumulan di semua aspek itu dan kelihatannya urutan itu mewakili anak tangga pergumulan sekaligus mewakili urutan prioritas bagi alumni: pertama pekerjaan, dilanjutkan dengan keluarga, lalu gereja, kemudian masyarakat, lebih lanjut bangsa dan negara (dan akhirnya dunia). Dengan kata lain, perjuangan untuk menjadi berkat di keluarga akan dimulai apabila alumni telah terlebih dulu berhasil dalam pergumulan pekerjaannya. Seterusnya, perjuangan untuk menjadi berkat di masyarakat cenderung akan dimulai setelah alumni berhasil dalam pergumulan pernikahan dan keluarga serta pekerjaan. Dengan cara berpikir yang sama, maka secara sadar atau tidak, alumni baru akan bertindak bagi bangsa dan negara apabila telah merasa berhasil dalam pekerjaan, keluarga, gereja, dan masyarakat. Cara berpikir demikian akhirnya membawa kita kepada sebuah anggapan bahwa mengambil bagian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah sebuah tahap lanjut dari pertumbuhan kerohanian seseorang.

Alasan ini kedengarannya lebih dapat diterima daripada alasan Hutabarat atas kurangnya partisipasi alumni untuk negara ini. Alumni cenderung memusatkan segala sumber dayanya untuk perkara-perkara yang berhubungan dengan diri sendiri (internal), seperti pekerjaan dan karir serta perkawinan dan keluarga. Aspek internal ini telah menyita sumber daya alumni setinggi-tingginya sehingga sangat sedikit, bahkan mungkin tidak ada lagi yang tersisa untuk digunakan bagi perkara-perkara di luar diri sendiri (eksternal), seperti gereja, masyarakat apalagi bangsa dan negara. Coba kita perhatikan topik-topik pembicaraan yang paling sering alumni bicarakan pada kesempatan bertemu di KTB, persekutuan, atau berbagai kesempatan lain. Biasanya topiknya berkisar pergumulan pekerjaan/bisnis, teman hidup/pasangan dan keluarga. Coba perhatikan juga catatan pokok-pokok doa yang kalau diamati kisarannya juga sempit, yaitu tentang kesehatan, pekerjaan/bisnis, rencana sekolah anak, belum punya rumah/rencana beli rumah, kebutuhan mobil/rencana beli mobil, rencana pindah kerja, orangtua/mertua, pendidikan dan biaya sekolah anak, tabungan hari tua, dll. Pembicaraan tentang gereja, masyarakat, bangsa dan negara bisanya hanya ada di acara-acara khusus seperti seminar-seminar, retret-retret dan kamp-kamp pembinaan. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua itu merupakan tanda-tanda negatif kerohanian dan bahwa itu semua tidak perlu. Yang ingin saya utarakan adalah bahwa itulah cakupan pergumulan alumni pada umumnya. Meminjam istilah Steven R. Covey dalam bukunya Tujuh Kebiasaan Manusia yang Paling Efektif, semua itu menunjukkan bahwa lingkaran kepedulian alumni masih kecil. Lingkaran kepeduliannya masih seputar hal-hal internal dan belum meluap kepada hal-hal eksternal.

Tanpa maksud menyederhanakan dan menyamaratakan keadaan, saya memberanikan diri mengatakan bahwa kenyataan rendahnya peranan kita dalam berbangsa dan bernegara adalah karena rendahnya kepedulian kita terhadap situasi bangsa dan negara kita. Untuk mengerti tentang makna kepedulian ini, saya ingin menyampaikan secara singkat beberapa hal tentang kepedulian sehingga maknanya dapat kita renungkan dengan baik. Pertama, kepedulian berbanding lurus dengan tindakan. Semakin besar kepedulian kita terhadap sesuatu, semakin besar tindakan kita untuk sesuatu itu. Sebaliknya, semakin rendah kepedulian kita, semakin kecil tindakan kita. Kita tidak akan berbuat apa-apa bagi negara kalau kepedulian kita terhadap isu-isu bernegara tidak ada. Kedua, kepedulian lebih merupakan perkara perasaan daripada pengetahuan.  Pengetahuan akan sesuatu tidak cukup kuat untuk melahirkan kepedulian terhadap sesuatu itu, tetapi kepedulian dipastikan muncul bila sesuatu itu telah memasuki wilayah perasaan seseorang seperti cinta, kasihan, sedih, prihatin, dll. Namun demikian, haruslah tetap diingat bahwa pengetahuan adalah prasyarat timbulnya perasaan. Tidak ada perasaan yang muncul tanpa didahului oleh sebuah pengetahuan. Semakin kuat perasaan kita terhadap seseorang, misalnya cinta, semakin peduli kita terhadap seseorang itu. Dengan cara yang sama, semakin kita sedih dan prihatin atas keadaan masyarakat Indonesia, semakin kita peduli terhadap mereka. Ketiga, kepedulian adalah tentang ego (kepentingan diri sendiri). Kita menjadi peduli jika sesuatu itu memiliki kepentingan atau keterkaitan dengan diri kita. Semakin besar keterkaitannya dengan kita, semakin peduli kita. Kita mungkin akan lebih peduli dengan PHK di kantor jika kita termasuk di dalam daftar orang yang akan di-PHK dibandingkan jika kita tidak termasuk di dalam daftar itu. Sebagai kesimpulan, kepedulian seseorang terhadap sesuatu akan muncul bila seseorang mengetahui, merasakan (perasaannya tersentuh) dan menjadi terkait secara pribadi dengan sesuatu itu.

Berdasarkan pemahaman itu, kita dapat mengetahui apa sebenarnya yang menjadi kepedulian seseorang melalui pilihan-pilihan tindakannya. Kalau seseorang menghabiskan banyak waktunya untuk pekerjaan/bisnis, maka sebenarnya dia sangat peduli dengan pekerjaannya. Surat-surat Paulus yang begitu banyak kepada berbagai jemaat menunjukkan bahwa dia sangat peduli dengan mereka. Jadi, apa yang paling banyak/sungguh-sungguh kita lakukan, menunjukkan apa sebenarnya yang menjadi kepedulian kita. Kalau kita coba jujur pada diri sendiri, sebagai orang berpendidikan tinggi dan telah dipilih Tuhan untuk diselamatkan, kita seharusnya merasa malu karena lingkaran kepedulian kita masih persis sama dengan orang pada umumnya, yaitu sekedar memikirkan pekerjaan/bisnis, keluarga, pendidikan anak, investasi hari tua, dll yang bersifat internal. Cara melakukannya memang pasti (?) berbeda dengan orang yang belum mengenal Tuhan, namun cakupan kepeduliannya setali tiga uang! Kalau Tuhan menciptakan kita hanya untuk meraih tujuan internal dan duniawi seperti itu, masak sih Dia sampai mau mengorbankan Yesus untuk kita. Pastilah ada hal besar yang Dia ingin kita kerjakan melalui pemilihan dan penebusanNya. Hal besar itu sudah kita ketahui bersama, yaitu untuk menjadi perpanjangan-tanganNya dan menghadirkan kerajaan Allah di negara ini.

Meningkatkan kepedulian sebenarnya tidak terlalu sulit. Perbanyaklah pengetahuan tentang situasi yang ada di negara ini melalui baca, lihat dan dengar. Kemudian, libatkan perasaan kita terhadap informasi itu. Tahap ini yang menurut saya paling penting dan sulit dilakukan. Namun, dengan sedikit kreatifitas, kita dapat merasakan situasi itu. Caranya adalah dengan melakukan praktek lapangan. Ketika saya membaca koran dan mendengar bahwa ada banyak barak pengungsian di Aceh saat bencana tsunami dulu, saya menjadi tahu tetapi perasaan saya belum banyak tersentuh. Ketika berkesempatan datang ke Aceh dan melihat barak-barak pengungsian yang berukuran 3 x 4 m itu, hati sayapun tersentuh. Ketika saya masuk ke dalam barak itu dan melihat 5 – 6 orang duduk dan berbaring di lantai papan dengan wajah sedih, pakaian dan perabotan berserakan, hati saya terenyuh. Ketika saya melihat siswa SD di sebuah pulau kecil di Maluku Utara, pulau yang ditempuh 10 jam perjalanan laut dari Ternate, pergi berjalan kaki ke sekolah dengan jarak 2-3 km, hati saya sedih. Ketika saya memasuki tempat pangkas rambut pinggir jalan di sekitar Pasar Mampang, Jakarta Selatan, dan menemukan antrian gepeng dan anak jalanan yang dibawa oleh ‘pimpinannya’, seorang pria berumur 30-an, untuk dipotong rambutnya, saya marah kepada pemerintah, kecewa kepada ‘pimpinan’ itu dan kasihan kepada anak-anak jalanan itu. Dengan cara itu saya membawa pengetahuan saya ke wilayah perasaan dan berusaha membuat diri terkait dengan situasi itu. Akibatnya adalah saya bertindak sesuai dengan kapasitas saya. Beberapa teman kita bertindak dengan menulis di koran dan majalah, sebagian melakukan unjuk rasa, sebagian membongkar praktek-praktek dosa dalam birokrasi dan sistem pendidikan, sebagian mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, sebagian menjadi guru di desa terpencil, dll. Mereka semua telah berhasil merasakan dan mengaitkan diri dengan berbagai situasi memprihatinkan di negara ini. Beberapa kisah teman-teman di daerah terpencil membuktikan hal yang sama. Mereka tersentuh hatinya dengan belas kasihan oleh karena mereka berada di lapangan. Semakin mereka terlibat di daerah itu semakin mereka ingin menetap dan berbuat di sana. Semakin dalam kita ‘menyelam’ dalam situasi nyata di lapangan, semakin ‘basah’ perasaan kita.

Langkah praktis sederhana yang dapat kita lakukan adalah dengan melakukan ‘wisata perasaan’ di akhir pekan khususnya bagi alumni yang kesehariannya tidak berkesempatan melihat kondisi seperi itu. Gantikan saja rencana liburan ke puncak menjadi kunjungan ke tempat kumuh di kota kita, lihat dan masuki gubuk mereka serta dengarkan suara hati. Gantikan rencana ke pantai menjadi kunjungan ke desa miskin terpencil dan cobalah menginap di rumah kaum miskin itu. Hati kita akan dibuat menangis dan kita akan terus gelisah kalau kita tidak berbuat sesuatu. Melalui wisata ini hati kita pasti disegarkan. Kesegaran yang kita rasakan akan jauh lebih baik dibandingkan kesegaran yang kita harapkan ada ketika melakukan jalan-jalan konvensional yang biasa dilakukan banyak orang ke tempat-tempat wisata.

Akhirnya, jangan biarkan kepedulian saja yang semakin besar. Kepedulian yang besar masih akan sia-sia kalau kita tidak memiliki kekuatan untuk mempengaruhi sesuatu. Kekuatan ini menurut Covey disebut dengan lingkaran pengaruh. Kita mungkin tahu ada banyak alumni yang memiliki kepedulian besar terhadap sesuatu, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka tidak memiliki pengaruh di wilayah itu. Oleh karena itu, sangat dianjurkan kita memperluas pengaruh kita dengan cara mengembangkan diri. Investasi waktu, dana dan daya untuk mengembangkan diri tidak akan percuma. Bertekunlah dalam pekerjaan agar suatu saat dipercaya menjabat posisi pengambil keputusan. Sementara itu, dalam keadaan sekarang ini, pergunakan pengaruh yang ada untuk mempengaruhi situasi sekitar kita. Partisipasi sekecil apapun dibutuhkan oleh negara kita saat ini dan pasti berkenan di hati Tuhan kita. Pengkhotbah mengatakan tali tiga lembar tidak mudah diputuskan. Kerjasama dan membangun jaringan dengan alumni lain akan memperluas pengaruh kita. Pengaruh pribadi yang kecil, jika digabungkan dengan pengaruh alumni lain akan menghasilkan pengaruh yang besar yang mampu mengubah Indonesia.

Posted in Spiritual | Leave a Comment »

KAU TIDAK SENDIRI

Posted by Asken Sinaga on February 21, 2009

Barangkali kita sudah sering mengucapkan atau mendengar kalimat sederhana di atas, kau tidak sendiri. Arti kalimat itu juga sepertinya bukan hal yang asing lagi bagi kita. Biasanya kalimat itu diucapkan untuk menghibur, meneguhkan, memberi semangat orang yang sedang sedih, lemah, atau berputus asa. Arti kalimat itu bisa berbeda tergantung situasi dimana ia digunakan. Beberapa kemungkinan situasi adalah sebagai berikut:

  1. ”Banyak orang di luar sana mengalami hal yang sama, bahkan lebih berat dari permasalahanmu. Mereka juga mengalaminya! Percayalah, KAU TIDAK SENDIRI”.
  2. ”Saya harap kau mempertimbangkan kembali keputusanmu. Pikirkan dampaknya terhadap orang-orang di sekitarmu. Ingatlah, KAU TIDAK SENDIRI”.
  3. ”Ujian hidupmu memang sangat berat. Tapi Tuhan sudah pastikan bahwa ini tidak akan melampaui kekuatanmu. Dia berjanji dan setia pada janjiNya bahwa Dia akan menyertai, memelihara, menolong dan memberi jalan keluar. Dalam melalui ujian ini, KAU TIDAK SENDIRI”
  4. ”Selagi kau jauh di sana, kami tidak akan dapat mengamatimu seperti saat masih tinggal bersama kami. Tetapi ingatlah, dimanapun kau berada, ada Tuhan yang akan selalu mengamatimu. Takutlah senantiasa akan Dia. Kau memang sendirian tetapi KAU TIDAK SENDIRI”.

 

Ada 2 kesamaan yang terdapat dalam keempat situasi di atas. Yang pertama adalah bahwa merasa sendiri itu berakibat buruk. Ia dapat membuat seseorang (1) merasa paling malang di dunia, (2) menjadi egois, (3) berputus asa, atau (4) hidup dalam dosa tersembunyi. Yang kedua adalah bahwa merasa sendiri itu hanyalah sebuah anggapan dan bukan sebuah kenyataan. Pada keempat contoh di atas, orang kepada siapa kalimat itu ditujukan sebenarnya tidak sedang dalam keadaan sendiri. Dia hanya menganggap sedang sendiri, padahal pada kenyataannya tidak. Orang itu  perlu disadarkan dari anggapannya dengan menggunakan kalimat negatif (kontradiktif) yaitu kau tidak sendiri. Sekiranya orang itu sadar, atau berhasil diyakinkan, bahwa dia sebenarnya tidak dalam keadaan sendiri, sangat mungkin dia tidak akan mengalami hal-hal buruk di atas. Dengan kesadaran itu diharapkan: (1) dia tidak akan merasa sebagai orang paling malang di dunia, karena banyak orang mengalami hal yang sama, (2) dia tidak akan egois karena sadar ada orang lain di sekitarnya yang memiliki kepentingan seperti dirinya, (3) dia akan tegar menghadapi masalahnya karena Tuhan pasti menolong, (4) dia akan bersikap sama baiknya ketika dilihat atau tidak dilihat manusia, karena sadar bahwa Allah melihat.

 

Dari 4 contoh situasi di atas, contoh nomor 3 adalah situasi yang paling sering kita alami sebagai orang kristen. Masalah dalam kehidupan kita akan terus ada sampai waktu Tuhan tiba. Di sinilah indahnya persekutuan, kita bisa saling menghibur di dalam Tuhan. Indah, tetapi juga unik. Keunikannya adalah bahwa kita bergantian mengambil peran, kadang kita berperan sebagai orang yang mengucapkan Kau tidak sendiri kepada orang lain, tetapi kadang kala kita berperan sebagai orang yang mendengarkannya dari orang lain (semoga saja kita lebih sering mengambil peran mengucapkannya daripada mendengarkannya, karena dengan demikian berarti kita lebih banyak memberi semangat kepada orang lain dari pada menyita tenaga orang lain untuk menghibur kita). Ketika kita mengucapkannya atau mendengarkannya, kita berada dalam proses membuang anggapan sedang sendiri, dan menyadarkan kita kepada fakta bahwa kita tidak sendiri.

 

Mungkinkah seseorang dalam keadaan benar-benar sendiri, bukan sekedar sedang beranggapan? Sebuah kamus mendefenisikan kata sendiri sebagai: tanpa kehadiran atau bantuan pihak  lain. Dari pengertian tersebut, sepertinya di jaman ini dimana dunia tidak berbatas (borderless) dengan peralatan komunikasinya yang sangat canggih,  tidak bakal ada orang yang benar-benar sendiri, bahkan sekalipun dia menginginkan hal itu! Jaman ini ’memaksa’ kita untuk tidak menjadi sendiri. Menjadi benar-benar sendiri adalah sesuatu yang mustahil! Sekiranya pun, katakanlah melalui berbagai usaha, memungkinkan bagi seseorang untuk benar-benar menjadi sendiri, itu hanya akan berlaku bagi orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Orang kristen tidak mungkin berada dalam keadaan sendiri sebab Tuhan adalah Yang Awal dan Yang Akhir. Tuhan itu ada. Alkitab mencatat bahwa Tuhan itu hadir dan berjanji memelihara umatNya.

 

Ada 2 hal yang dapat kita pahami sekarang, yaitu (1) bahwa sesungguhnya semua hal buruk di atas muncul akibat dari anggapan merasa sendiri saja, dan (2) bahwa faktanya adalah orang kristen tidak mungkin sendiri karena Tuhan telah berjanji untuk menyertai umatnya (lihat Yesaya 41:10). Apakah pemahaman ini akan membantu kita dalam menghadapi permasalahan hidup? Mungkin ya, mungkin tidak, dan mungkin juga ya dan tidak. Mari kita merenungkannya dan mencari jawabannya untuk kita masing-masing dan mengubah pemahaman ini menjadi sebuah keyakinan iman dalam diri kita. Hanya ketika ini telah menjadi sebuah keyakinan iman, bahwa kita tidak pernah sendiri karena Tuhan selalu ada, saat itulah pemahaman ini mengambil perannya dalam membantu kita menghadapai permasalahan hidup. Selamat berjuang karena KAU TIDAK SENDIRI!

 

Posted in Spiritual | Leave a Comment »

Haruskah Saya Menikah?

Posted by Asken Sinaga on November 24, 2008

Suatu kali saya mengetik kata “pernikahan” pada mesin pencari (search engine) di internet dan alangkah terkejutnya saya saat mesin pencari menyajikan 6.110.000 web atau pages. Tak terbayangkan oleh saya betapa banyak waktu yang akan dibutuhkan untuk melihat seluruh web itu! Namun, saya coba membuka beberapa yang berada di posisi teratas dan saya cukup terkesan kalau salah satu yang berada di halaman depan adalah tentang pernikahan be-ce-el, Bunga Citra Lestari, dan Ashraf. Di sana diceritakan mulai dari kisah percintaan mereka hingga adanya gangguan pada sepatu pengantin si Bunga (ah..selebriti…selebriti…). Iseng-iseng saya coba lagi ketik kata “marriage” dan meng-klik search. Alamak…kepada saya disajikan 746.000.000 web! Apa artinya jumlah yang fantastis ini? Kesimpulan saya saat itu adalah bahwa topik ini sangat menarik perhatian orang di seluruh dunia. Untung saja saya sudah  menikah sehingga tidak sulit bagi saya untuk segera bisa memaklumi tingginya angka itu. Pernikahan memang topik hangat seumur hidup, sepanjang jaman dan tidak memandang suku, agama, kelompok dan jenis kelamin.

 

Sepintas melihat pembahasan beberapa web tersebut, saya menemukan banyak sekali thema pembahasan mereka. Meski demikian, sebenarnya mereka dapat dikelompokkan berdasarkan fokus pembahasan dan target pembacanya. Lebih sempit lagi, sepertinya mereka dapat dikelompokkan berdasarkan pertanyaan yang hendak mereka jawab, misalnya:

  1. Apa arti pernikahan?
  2. Haruskah saya menikah?
  3. Kapan sebaiknya saya menikah?
  4. Dengan siapa saya akan menikah?
  5. Bagaimana saya akan menikah?
  6. Dimana saya akan menikah?
  7. Bagaimana menjalani kehidupan pernikahan?
  8. Apa hubungan sex dengan pernikahan
  9. Apa pengaruh anak dalam pernikahan?
  10. dll (tentang pernak-pernik pernikahan)

 

Terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, mereka menawarkan berbagai jawaban atau pendapat, ada yang mirip, bahkan sama, tapi ada juga yang berbeda, bergantung kepada rujukan atau sudut pandang penulis.

 

Di usia pernikahan saya yang baru memasuki tahun ke-7, saya diyakinkan bahwa di antara banyak pertanyaan tentang pernikahan, 2 pertanyaan terpenting yang seharusnya direnungkan dengan sangat serius oleh setiap orang sebelum menikah adalah: Apa arti pernikahan dan Haruskah saya menikah? Alasaannya adalah karena pemahaman yang benar atas arti pernikahan akan menghasilkan sikap atau tindakan yang benar dalam menjalani pernikahan itu. Bukankah sikap dan tindakan adalah buah dari pengertian-pengertian yang dimiliki oleh seseorang? Namun, sekedar memiliki pemahaman atas arti pernikahan tidak serta merta membuat seseorang akan berhasil menjalani kehidupan pernikahannya. Keberhasilan pernikahan seseorang ditentukan juga oleh motivasi atau alasan atau tujuannya menikah. Steven R. Covey dalam bukunya “The 7 Habits of Highly Effective People” dan Rick Warren dalam bukunya “The Purpose Driven Life” mengatakan bahwa tujuan hidup itu penting untuk kehidupan yang berarti dan efektif dan bahwa setiap sikap atau tindakan seseorang ditentukan oleh tujuan hidupnya. Pendapat kedua penulis itu berlaku juga dalam hal pernikahan. Motivasi, tujuan atau alasan seseorang untuk menikah akan menentukan cara seseorang menjalani kehidupan pernikahannya. Motivasi, alasan dan tujuan inilah yang diharapkan tergali dan terrenungkan melalui pertanyaan: Haruskah saya menikah?

 

Terhadap pertanyaan apa arti pernikahan, saya tidak ingin berkata banyak lagi. Pengertian yang sudah kita peroleh melalui berbagai cara sejak kecil hingga di usia dewasa ini sudahlah cukup. Tetapi untuk pertanyaan haruskah saya menikah, saya ingin memberikan sedikit pendapat dan mudah-mudahan tidak dianggap sebagai pemicu keraguan.

 

Haruskah saya menikah? Hanya ada 2 kemungkinan jawaban terhadap pertanyaan itu, yaitu YA atau TIDAK. Jika seseorang memiliki jawabannya YA, maka dia akan mengusahakan mencari dan menemukan pasangannya. Jika jawabannya TIDAK, maka dia tidak akan berusaha untuk mencarinya. Ini adalah akibat logis dari sebuah keyakinan dan secara umum manusia akan berlaku demikian. Sesederhana itu!

 

Sebagai orang yang percaya kepada otoritas Sang Pencipta, saya meyakini bahwa jika jawaban YA ini sungguh berasal dari DIA, maka pencarian seseorang tentu akan berakhir dengan dipertemukannya dia dengan pasangan hidupnya. Namun, jika jawaban YA ini bukan berasal dari DIA, maka sebesar apapun usaha pencarian seseorang, pasangan itu tidak akan pernah muncul karena memang dia tidak pernah ada di dunia ini. Kalaupun seseorang akhirnya menikah, sebenarnya dia sedang memaksakan keinginannya dan menikahi orang yang bukan diperuntukkan untuk dia. Sebaliknya, jika jawabannya TIDAK, tetapi jawaban TIDAK ini bukan berasal dari DIA, maka si pasangan hidup itu pasti dikirimkanNYA juga kepada seseorang dan seharusnya dia menerimanya. Dia mungkin saja memilih hidup melajang padahal bisa jadi seseorang sudah diciptakan untuknya tetapi karena ketidaktaatan, akhirnya dia menolak untuk menikah.

 

Pastilah ada pembaca yang berargumentasi bahwa memang sesederhana itu logikanya, namun tidak sesederhana itu penerapannya. Saya masih meyakini bahwa penerapannya juga masih sederhana asal kita mau berpikir dan bersikap sederhana, merendahkan diri dan memasrahkan diri di hadapanNYA. Bukankah Tuhan itu maha kuasa, pencipta dan pemilik alam semesta? Bukankah kuasaNYA tidak terbatas? Bukankah kalau DIA mau, semua pasti terjadi? Orang-orang sederhana meyakini bahwa kalau sesuatu yang kita harapkan tidak terjadi, itu berarti bahwa DIA memang tidak mau itu terjadi. Orang-orang yang berpikir rumit menghabiskan banyak sumber dayanya untuk memperoleh sebuah jawaban lain mengapa sesuatu yang diharapkannya tidak terjadi. Berpikir keras sah-sah saja sepanjang dia tidak berpikir rumit.

 

Banyak kesalahan, kerusakan bahkan bencana di keluarga, masyarakat, negara dan dunia justru terjadi akibat kerumitan cara berpikir manusia. Lucunya, semakin bertambah usia, pengalaman dan pengetahuan manusia, cara berpikir manusia juga cenderung semakin rumit. Lihatlah sejarah yang dicatat oleh Kitab Suci. Cukup banyak cerita tentang kerumitan berpikir yang mengakibatkan hilangnya iman. Saya percaya bahwa iman memerlukan kesederhanaan. Kerumitan berpikir seringkali membuat orang kehilangan iman. Salah satu hal yang membuat Tuhan mengasihi anak-anak adalah karena kesederhanaan mereka. Tidak ada kerumitan berpikir dalam diri seorang anak. Bukankah kesederhanaan ini juga yang membuat para orangtua dan orang dewasa suka melihat anak-anak? Mereka tampak lucu-lucu dan manis-manis bukan karena paras mereka, tetapi karena kesederhanaan dan kepolosan mereka. Itulah kesederhanaan, dan itulah sebabnya di atas saya katakan: Sesederhana itu!

 

Di gereja tempat saya beribadah, setiap ibadah selalu ada doa syafaat yang salah satu topiknya adalah untuk umat yang belum menikah dan masih mencari teman hidup. Para pemimpin doa syafaat itu, seingat saya, selalu meminta agar Tuhan memberikan teman hidup untuk mereka. Hampir tidak ada doa yang memohon agar Tuhan memberi kepekaan kepada mereka untuk mengetahui kehendakNYA tentang panggilan hidup menikah atau melajang. Tampaknya pandangan bahwa Adam diciptakan untuk menikah dengan Hawa dan beranak cucu lebih disukai oleh umat daripada pandangan hidup melajang seperti yang dijalani dan dianjurkan oleh Rasul Paulus. Sebagian besar umat meyakini bahwa menikah adalah salah satu mata rantai atau siklus kehidupan manusia normal dan bahwa memang semua orang diciptakan Tuhan untuk menikah. Padahal tidak demikian adanya. Maafkan jika saya menggunakan argumentasi ekstrim; jika Tuhan berencana agar semua orang menikah, mengapa tidak diciptakanNYA pria dan wanita sama jumlahnya? Statistik kependudukan di Indonesia dan dunia menunjukkan bahwa jumlah penduduk wanita lebih banyak dari jumlah penduduk pria. Ada data yang menyatakan jumlah wanita 3 kali lebih banyak, bahkan ada yang menyatakan 7 kali lebih banyak. Mohon tidak diartikan bahwa ini berarti semua pria pasti menikah (karena tersedia cukup wanita) dan belum tentu semua wanita akan menikah (karena kurangnya ketersediaan pria). Argumentasi ekstrim ini saya tujukan untuk menegaskan bahwa secara matematispun sudah cukup jelas bahwa memang ada kemungkinan manusia diciptakan melajang. 

 

Pernikahan adalah panggilan dan karunia Tuhan sebagaimana hidup melajang adalah juga panggilan dan karuniaNYA. Tidak semua orang harus menikah dan mungkin banyak orang yang saat ini sudah menikah seharusnya tidak menikah. Yesus berkata, “Ada orang yang tidak dapat kawin karena memang ia lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti” (Matius 19:12). Rasul Paulus menulis, “Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu. Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku” (1 Korintus 7:7-8). Mengapa seseorang tidak menikah? Satu alasan yang dicatat Kitab Suci adalah bahwa seseorang yang melajang dapat “melayani Tuhan tanpa gangguan” (1 Korintus 7:35). Hidup melajang berarti perhatian kita tidak terbagi antara menyenangkan Tuhan dan menyenangkan pasangan (1 Korintus 7:32-35).

 

Haruskah saya menikah? Sangat penting mengetahui jawabannya, namun tidak mudah untuk memperolehnya. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Cari dan dapatkanlah jawabannya dari Sang Pemilik hidupmu. DIA punya banyak cara untuk menyampaikan jawabanNYA kepada kita dan sebenarnya setiap saat DIA sedang menyatakan sesuatu kepada kita. Kalau pesan Tuhan tidak sampai kepada kita, periksalah “kerusakan” pada diri kita, bukan pada diri Tuhan. Gangguan bukan pada pihak Tuhan! Tuhan berkata, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matius 7:7). Ini adalah sebuah jaminan dari Tuhan bahwa jawaban pasti diperoleh. Langkah pertama adalah dengan “minta, cari dan ketoklah” untuk jawaban atas pertanyaan: haruskah saya menikah? Jika jawabanNYA YA, langkah kedua adalah melanjutkan dengan “minta, cari dan ketoklah” untuk si pasangan hidup itu. Mohon jangan dibalikkan urutannya! Bersyukurlah untuk pernikahan dan pasangan hidupmu karena itulah karunia dan panggilanmu. Sekiranya jawabanNYA TIDAK, lanjutkanlah dengan “minta, cari dan ketoklah” untuk panggilan khususmu untuk hidup melajang. Bersyukurlah juga karena itulah karunia dan panggilan hidupmu.

 

Akhirnya, saya ingin mengulang kembali bahwa manusia bersikap dan bertindak berdasarkan tujuan hidupnya. Apa sebenarnya yang menjadi tujuan hidup seseorang dapat dengan mudah diketahui dari pilihan-pilihan dan keputusan-keputusannya. Ilmu psikologi klasik menyatakan bahwa manusia secara naluriah bertindak untuk menghindari penderitaan dan mendapatkan kenikmatan. Dari pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan seseorang, kita dapat mengetahui apa yang menjadi kenikmatan yang dikejarnya dan apa yang menjadi penderitaan yang dihindarinya. Kenikmatan dan penderitaan sewaktu kita masih hidup di bawah kuasa daging haruslah berbeda dengan kenikmatan serta penderitaan setelah kita hidup di dalam Roh, karena Roh berbeda dari daging. Rasul Paulus mengalami hal tersebut sehingga sesuatu yang dulu dianggapnya berharga, sekarang dianggapnya sampah setelah mengenal Tuhan, dan sesuatu yang dulunya dianggapnya penderitaan, sekarang malah dianggapnya kebahagiaan.

 

Penderitaan kita adalah menyakiti hati Tuhan melalui pernikahan atau melajang yang tidak dikehendakiNya dan kenikmatan bagi kita adalah menyenangkan hati Tuhan melalui pernikahan atau melajang yang dikehendakiNya.

 

Haruskah Anda Menikah?

Posted in Pernikahan | 1 Comment »

NGO: Defenisi, sejarah, peranan, pengelompokan dan karir

Posted by Asken Sinaga on June 2, 2008

NON GOVERNMENTAL ORGANIZATION

Disadur dari berbagai sumber dan disajikan pada Kamp Mahasiswa Regional Sumbagut, Perkantas Medan, pada Agustus 2007


I. Defenisi, sejarah dan sifat

Istilah “non-governmental organization” digunakan sejak berdirinya PBB pada tahun 1945, tepatnya pada pada Piagam PBB Pasal 71 Bab 10 tentang peranan konsultatif non-governmental organization. Awalnya istilah ini digunakan untuk membedakan antara hak partisipatif badan-badan pemerintah (intergovernmental agencies) dan organisasi-organisasi swasta international (international private organizations).

Defenisi “international NGO” (INGO) pertama kali diberikan dalam resolusi 288 (X) ECOSOC pada 27 Pebruari 1950: “setiap organisasi internasional yang tidak didirikan atas dasar sebuah perjanjian internasional “. World Bank, mendefenisikan NGO sebagai “organisasi swasta yang menjalankan kegiatan untuk meringankan penderitaan, mengentaskan kemiskinan, memelihara lingkungan hidup, menyediakan layanan sosial dasar atau melakukan kegiatan pengembangan masyarakat”. Dalam sebuah dokumen penting World Bank, Working With NGOs, disebutkan, “Dalam konteks yang lebih luas, istilah NGO dapat diartikan sebagai semua organisasi nirlaba (non-profit organization) yang tidak terkait dengan pemerintahan.

NGO pada umumnya adalah organisasi berbasis nilai (value-based organizations) yang bergantung kepada, baik sebagian atau keseluruhan, bantuan amal (charitable donations) dan pelayanan sukarela (voluntary service). Walaupun sejak lebih dari 2 dekade terakhir sektor NGO telah semakin diprofesionalisasikan, namun prinsip-prinsip altruism (mementingkan orang lain) and kesukarelaan (voluntarism) masih menjadi ciri utamanya.”

Sejak beberapa dekade yang lalu, NGO telah menjadi pemain utama dalam bidang pengembangan internasional (international development). Sejak pertengahan 1970-an, sektor NGO di negara maju dan negara berkembang telah mengalami pertumbuhan yang berlipat ganda. Dari 1970 hingga 1985 total bantuan untuk pengembangan yang diberikan oleh NGO internasional telah meningkat 10 kali lipat. Pada tahun 1992 NGO internasional menyalurkan lebih dari $7.6 miliar bantuan untuk negara-negara berkembang. Saat ini diperkirakan lebih dari 15% dari total bantuan dunia untuk pengembangan disalurkan melalui NGO.

Walaupun statistik tentang jumlah NGO di seluruh dunia belum lengkap, namun diperkirakan ada sekitar 6,000 sampai 30,000 NGO nasional di negara-negara berkembang. Amerika Serikat memiliki sekitar 2 juta NGO, yang sebagian besar didirikan 30 tahun yang lalu. Rusia memiliki 400,000 NGO. India diperkirakan memiliki 1 hingga 2 juta NGO. Iran memiliki 20.000 NGO aktif pada tahun 2003. Di Kenya, 240 NGO terbentuk setiap tahun.


II. Peranan NGO

Peranan NGO penting untuk membangun suatu masyarakat dan bangsa. Ini disebabkan karena banyak pembiayaan dari perorangan, institusi dan pemerintah untuk masyarakat disalurkan melalui NGO. Sejak tahun 1970-an, NGO telah bertambah banyak dari sebelumnya mencoba untuk mengisi ruang yang tidak akan atau tidak dapat diisi oleh pemerintah.

Dari sekian banyak peran yang dimainkan oleh NGOs, 6 hal berikut ini merupakan yang penting:

· Pengembangan dan Pembangunan Infrastruktur

Membangun perumahan, menyediakan infrastruktur seperti sumur atau toilet umum, penampungan limbah padat dan usaha berbasis masyarakat lain.

· Mendukung inovasi, ujicoba dan proyek percontohan:

NGO memiliki kelebihan dalam perancangan dan pelaksanaan proyek yang inovatif dan secara khusus menyebutkan jangka waktu mereka akan mendukung proyek tersebut. NGO dapat juga mengerjakan percontohan untuk proyek besar pemerintah karena adanya kemampuan bertindak yang lebih cepat dibandingkan dengan pemerintah dengan birokrasinya yang rumit.

· Memfasilitasi komunikasi

NGO dapat memfasilitasi komunikasi ke atas, dari masyarakat kepada pemerintah, dan ke bawah, dari pemerintah kepada masyarakat. Komunikasi ke atas mencakup pemberian informasi kepada pemerintah tentang apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh masyarakat, sedangkan komunikasi ke bawah mencakup pemberian informasi kepada masyarakat tentang apa yang direncanakan dan dikerjakan oleh pemerintah. NGO juga dapat memberikan informasi secara horizontal dan membentuk jejaring (networking) dengan organisasi lain yang melakukan pekerjaan yang sama.

· Bantuan teknis dan pelatihan

Institusi pelatihan dan NGO dapat merancang dan memberikan suatu pelatihan dan bantuan teknis untuk organisasi berbasis masyarakat dan pemerintah.

· Penelitian, Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi yang efektif terhadap sifat partisipatif suatu proyek akan memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat dan staf proyek itu sendiri.

· Advokasi untuk dan dengan masyarakat miskin

NGO menjadi jurubicara dan perwakilan orang miskin dan mencoba untuk mempengaruhi kebijakan dan program pemerintah. Ini dapat dilakukan melalui berbagai cara mulai dari unjuk rasa, proyek percontohan, keikutsertaan dalam forum publik untuk memformulasi kebijakan dan rencana pemerintah, hingga mengumumkan hasil penelitian dan studi kasus terhadap orang miskin. Jadi, NGO memainkan peran mulai dari advokasi kepada orang miskin hingga implementasi program pemerintah; dari penghasut (pembuat opini) dan pengkritik hingga rekan kerja dan penasehat; dari sponsor proyek percontohan hingga mediator.


Beberapa bidang yang digeluti oleh NGO, antara lain:

1. Pendidikan masyarakat dan pengembangan kesehatan

Pendidikan seks dan kontrasepsi, kesehatan umum, pembuangan limbah/ sampah, penggunaan air, vaksinasi, pelayanan konsultasi remaja.

2. Penanganan kesehatan khusus

HIV/AIDS, Hepatitis B, pemulihan kecanduan obat.

3. Masalah sosial masyarakat

Kenakalan (kejahatan) remaja, remaja yang meninggalkan rumah, anak jalanan, prostitusi.

4. Lingkungan hidup

Pendidikan konsumsi energi dan air, pelestarian gunung dan hutan

5. Ekonomi

Pinjaman dan usaha mikro, pelatihan keahlian (komputer, teknisi, katering, menjahit, dll), promosi dan distribusi produk (bazaar, dll), pembentukan koperasi, konsultasi keuangan, bantuan mencari kerja dan pengembangan karir.

6. Pengembangan

Pembangunan sekolah, pembangunan infrastruktur, pembangunan dan operasional pusat budaya, bantuan ahli untuk pertanian dan kelautan.

7. Isu perempuan

Hak anak dan perempuan, pusat bantuan untuk perempuan yang mengalami kekerasan, terapi kelompok terhadap perempuan yang mengalami pelecehan seksual, hotline counseling (konseling via telepon khusus untuk perempuan), bantuan hukum untuk perempuan, mendorong minat baca dan tulis.


III. Pengelompokan NGO

World Bank membagi NGO ke dalam 2 kelompok, yaitu: Operasional dan Advokasi.

A. NGO Operasional

Tujuan utamanya adalah perancangan dan implementasi proyek pengembangan. Kelompok ini menggerakkan sumber daya dalam bentuk keuangan, material atau tenaga relawan, untuk menjalankan proyek dan program mereka. Proses ini umumnya membutuhkan organisasi yang kompleks. NGO operasional ini masih dapat dibagi atas 3 kelompok besar:

1. Organisasi berbasis masyarakat – yang melayani suatu populasi khusus dalam suatu daerah geografis yang sempit;

2. Organisasi Nasional – yang beroperasi dalam sebuah negara yang sedang berkembang, dan

3. Organisasi Internasional – yang pada dasarnya berkantor pusat di negara maju dan menjalankan operasi di lebih dari satu negara yang sedang berkembang.

Sepanjang tahun 1970-an dan 1980-an, kebanyakan contoh kolaborasi World Bank-NGO melibatkan NGO Internasional. Belakangan ini, tren tersebut telah berbalik. Dari seluruh proyek yang melibatkan kolaborasi NGO yang tercatat di tahun fiskal 94, 40% melibatkan organisasi berbasis masyarakat 70% melibatkan organisasi nasional and 10% melibatkan organisasi internasional.


B. NGO Advokasi

Tujuan utamanya adalah mempertahankaan atau memelihara suatu isu khusus dan bekerja untuk mempengaruhi kebijakan dan tindakan pemerintah untuk atau atas isu itu. Berlawanan dengan manajemen proyek operasional, organisasi ini pada dasarnya berusaha untuk meningkatkan kesadaran (awareness) dan pengetahuan dengan melakukan lobi, kegiatan pers dan kegiatan-kegiatan aktivis. NGO ini pada dasarnya bekerja melalui advokasi atau kampanye atas suatu isu dan tidak mengimplementasikan program. Kelompok ini menjalankan fungsi yang hampir sama dengan kelompok operasional, namun dengan tingkatan dan komposisi yang berbeda. Pencarian dana masih perlu namun dengan ukuran yang lebih kecil.

NGO dapat pula dikelompokkan berdasarkan orientasi dan tingkat operasi:

1. Berdasarkan Orientasi

  • Orientasi Amal (Charitable) sering melibatkan kerja pola top-down dengan sedikit partisipasi penerima manfaat. Kegiatan NGO diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan makanan pada orang miskin, pakaian dan obat-obatan, perumahan, sekolah, dll. NGO ini dapat juga melakukan aktifitas bantuan pada bencana alam atau bencana akibat perbuatan manusia.
  • Orientasi pelayanan mencakup NGO yang aktifitasnya berupa penyediaan jasa pelayanan kesehatan, perencanaan keluarga atau pelayanan pendidikan yang programnya dirancang oleh NGO dan masyarakat diharapkan berpartisipasi dalam implementasinya dan dalam penerimaan layanannya.
  • Orientasi partisipasi dicirikan dengan proyek kelola sendiri (self-help projects) dimana penduduk setempat dilibatkan dalam implementasi proyek dengan cara memberi bantuan uang tunai, peralatan, lahan, bahan-bahan, tenaga kerja, dll. Dalam proyek pengembangan masyarakat yang klasik, partisipasi dimulai dengan identifikasi kebutuhan dan dilanjutkan kepada tahap perencanaan dan implementasi.
  • Orientasi pemberdayaan tujuannya adalah membantu orang miskin untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik terhadap faktor-faktor sosial, politik, dan ekonomi yang mempengaruhi kehidupan mereka, dan untuk meningkatkan kesadaran mereka akan kekuatan potensial yang mereka miliki untuk mengendalikan kehidupan mereka. Kadang-kadang, kelompok ini berkembang secara spontan akibat adanya suatu masalah atau isu, dan NGO memainkan peranan fasilitasi dalam perkembangan mereka.

2. Berdasarkan tingkatan operasi

  • Organisasi berbasis masyarakat muncul dari inisiatif orang-orang itu sendiri. Ini dapat mencakup klub olahraga, organisasi perempuan, organisasi jiran, organisasi agama atau pendidikan. Ada banyak variasi dari jenis ini. Sebagian didukung oleh NGO, atau badan bilateral atau internasional, dan yang lainnya independen dari bantuan pihak luar. Sebagian bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat miskin kota atau membantu mereka memahami hak-hak mereka dalam memperoleh akses kepada layanan yag dibutuhkan sementara yang lain terlibat dalam penyediaan layanan itu sendiri.
  • Organisasi perkotaan (Citywide Organizations) mencakup organisasi seperti Rotary atau Lion’s Club, kamar dagang dan industri, koalisi bisnis, kelompok etnis dan pendidikan dan asosiasi organisasi masyarakat. Sebagian berdiri untuk tujuan tertentu namun menjadi terlibat dalam membantu orang miskin sebagai satu dari banyak kegiatannya, sementara yang lain dibentuk untuk tujuan khusus yaitu membantu orang miskin.
  • NGO nasional mencakup organisasi seperti Palang Merah (Red Cross), organisasi profesi, dll. Sebagian di antaranya memiliki cabang di suatu negara dan membantu NGO setempat.
  • NGO internasional mulai dari badan sekuler seperti organisasi Save the Children, OXFAM, CARE, Ford and Rockefeller Foundations hingga kelompok yang didasarkan oleh agama. Kegiatan mereka bervariasi dari pencariaan dana hingga implementasi proyek.

IV Kekuatan dan Kelemahan NGO

Karena sifat dan kualitas masing-masing NGO sangat bervariasi, maka sangat sulit untuk mengeneralisasikan sektor ini secara keseluruhan. Namun, terlepas dari berbagai variasi tersebut, beberapa kekuatan dari sektor NGO adalah sbb:

1. Jaringan grassroots yang kuat.

2. Kemampuan melakukan inovasi dan beradaptasi, fleksibel dalam mengadaptasi situasi setempat dan merespon terhadap kebutuhan setempat dan oleh karenanya mampu mengembangkan proyek-proyek yang terintegarasi dan juga proyek-proyek sektoral.

3. Kemampuan mengidentifikasi orang-orang yang paling membutuhkan dan menciptakan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan.

4. Metodologi dan tools yang bersifat partisipatif;

5. Komitmen jangka panjang dan penekanan pada kesinambungan;

6. Efektifitas biaya.

7. Kemampuan berkomunikasi kepada semua tingkatan, mulai dari tetangga terdekat hingga tingkat tertinggi pada pemerintahan.

8. Kemampuan merekrut para staf yang ahli dan bermotivasi tinggi.

Kelemahan-kelemahan yang paling umum dari sektor ini adalah:

1. Keterbatasan keuangan (tingkat keberlanjutannya rendah)

2. Keterbatasan kapasitas institusi/kelembagaan;

3. Tertutupnya/kurangnya komunikasi intern organisasi dan/atau koordinasi;

4. Intervensi dalam skala yang kecil;

5. Kurangnya pemahaman akan konteks sosial ekonomi yang lebih luas;

6. Sikap terpola (paternalistic) membatasi tingkat keterlibatan partisipatif dalam desain program/proyek.

7. Terbatasnya cara pendekatan atas suatu masalah atau area.

8. “Kepemilikan teritorial” dari suatu daerah atau proyek mengurangi kerjasama antara badan-badan, terlihat seperti ancaman atau adanya persaingan.


V. Manajemen NGO

Ada 2 jenis manajemen yang sesuai dan umum diterapkan oleh NGO: diversity management dan participatory management. Diversity management sesuai untuk menangani budaya-budaya yang berbeda dalam sebuah organisasi. Personil yang berasal dari negara kaya dihadapkan dengan pendekatan yang sama sekali berbeda dengan negaranya dalam pengambilan keputusan. Gaya participatory management merupakan ciri khas NGO. Ini adalah konsep organisasi yang belajar: semua orang di organisasi tersebut dipandang sebagai sumber pengetahuan dan keahlian. Untuk mengembangkan organisasi, setiap individu harus mampu berkontribusi dalam proses pengambilan keputusan dan mereka perlu belajar.

Secara umum ada 2 kelompok kerja dalam NGO dalam implementasi proyek, yang juga digambarkan dalam struktur organisasi banyak NGO, yaitu kelompok program dan kelompok pendukung program (program support). Kelompok program mencakup orang-orang yang terlibat langsung dalam implementasi proyek seperti staf ahli untuk berbagai proyek seperti proyek kesehatan, perumahan, air dan sanitasi, pendidikan, dll, dan kelompok pendukung program mencakup staf SDM, keuangan, administrasi, pembelian, logistik, IT dan komunikasi, kendaraan, keamanan, humas, dll.


VI. Kritik terhadap NGO

1. Bahwa hanya sedikit saja dana yang sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, sebagian besar dana habis untuk pencarian dana, sebagian bahkan digunakan untuk membayar gaji yang sangat tinggi untuk para manajemen di tingkat atas. Di satu sisi kritik ini cukup adil, namun di sisi lain argumentasi ini bisa saja digunakan oleh orang yang ingin menjelekkan NGO karena penelitian NGO tersebut mungkin mengkritik keras kegiatan mereka. Diakui mungkin anda penyimpangan di NGO, namun setidaknya penyimpangannya jauh lebih kecil dibandingkan sektor swasta dan pemerintah dan tindakan terhadap penyimpangan dilakukan secara tegas dan cepat.

2. Ide dan metodologi yang digunakan NGO lebih banyak jeleknya daripada baiknya. Contohnya, banyak kelompok pemberi bantuan makanan, di situasi non darurat, mengirim makanan secara gratis atau subsidi dan tindakan ini telah merugikan produsen lokal dan akibatnya memberi efek negatif kepada petani dan ekonomi. Contoh lain adalah banyak organisasi yang bekerja atas suatu isu yang berhubungan dengan populasi beresiko melakukan kerugian yang lebih besar di masyarakat akibat miskonsepsi tentang kelebihan penduduk atau kesalahpahaman tentang struktur keluarga dan masyarakat di masyarakat tersebut. Di Banda Aceh, tindakan NGO di hari-hari awal bencana tsunami dipandang telah merusak budaya gotong royong masyarakat.

3. Bantuan seringkali membawa masyarakat kepada ketergantungan dan tidak menumbuhkan pengandalan diri dan kecukupan diri. Pada kenyataannya hal ini telah menjadi bagian integral penting dari globalisasi yang telah membuat beberapa negara kaya semakin kaya dan negara miskin tetap miskin dan terus bergantung. Bukannya negara miskin tidak mampu melakukan pernaikan sendiri, namun akibat penjajahan, korupsi, konflik berkepanjangan, dll, pembangunan sering membutuhkan bantuan luar. Bentuk bantuan yang lebih disukai adalah bantuan yang memungkinkan penerima menolong diri sendiri, sesuai dengan pepatah lama: “Memberi seseorang seekor ikan; anda memberi dia makan untuk hari ini. Mengajari seseorang mencari ikan; anda memberi dia nafkah seumur hidup”

4. NGO disebut bersifat tidak demokratis, karena masyarakat tidak memilih mereka namun mereka menyebut diri berjuang atas berbagai isu untuk dan atas nama masyarakat.


VII. NGO dan PBB

Dalam konteks PBB, NGO adalah organisasi yang diakui sebagai perwakilan utama masyarakat sipil di rapat-rapat PBB. NGO merupakan bagian penting dari PBB karena mereka mewakili orang-orang yang membutuhkan bantuan yang kegiatannya tidak dibayang-bayangi oleh kebijakan pemerintah. Komite NGO pada Economic and Social Council (ECOSOC) dibentuk semata-mata untuk mengakreditasi dan menelusuri NGO yang ingin bekerjasama dengan PBB. Di tahun 2005, ada 2,719 NGO yang telah lulus dari proses penilaian komite dan memperoleh status konsultatif dengan ECOSOC. Ada 3 jenis status konsultatif NGO: umum, khusus, atau terdaftar. NGO status umum cenderung merupakan NGO internasional yang besar dengan jangkauan geografis yang luas dan memiliki minat terhadap sebagian besar kegiatan ECOSOC dan badan-badannya. Banyak NGO berkategori umum telah berdiri sejak lama, berfungsi sebagai perantara antara organisasi pemberi bantuan seperti World Bank dengan kelompok-kelompok yang mengerjakan proyek-proyek pengembangan di lapangan, seperti International Chamber of Commerce, Medecins sans Frontieres (International), CARE International, dan Greenpeace. NGO status khusus berfokus kepada satu atau beberapa hal yang berhubungan dengan kegiatan ECOSOC. Mereka ini merupakan organisasi terspesialisasi seperti Amnesty International, American Bar Association, dan Oxfam America. NGO status terdaftar, pada beberapa kesempatan dapat membuat kontribusi-kontribusi yang berguna untuk kegiatan ECOSOC atau badan-badannya dan biasanya memiliki fokus yang sangat spesifik. Kelompok ini mencakup NGO kecil seperti organisasi-organisasi grassroot dan organisasi masyarakat hingga NGO yang berfokus kepada aspek-aspek yang sangat teknis pada suatu area kebijakan yang sangat khusus (yaitu Congress of Racial Equality (CORE), The Hunger Project, dan International Buddhist Foundation (IBF)). Ketiga jenis status NGO di atas memiliki jenis kegiatan yang bervariasi, seperti: anak & remaja, komunikasi, penyelesaian konflik, pelucutan senjata, penanganan bencana, penyalahgunaan obat, pendidikan, lingkungan hidup, etika dan nilai, keluarga, kesehatan & nutrisi, sumber daya manusia, HAM, hukum, sumber daya alam dan energi, perdamaian dan keamanan, agama, perdagangan, keuangan dan transportasi, kependudukan, pengungsian, ilmu pengetahuan dan teknologi, pengembangan berkesinambungan dan kedudukan perempuan.


VIII. Karir di NGO

Saat ini NGO adalah bisnis yang serius. Banyak orang tidak tahu akan banyaknya peluang kerja yang ada di dalam NGO. Sebagai contoh, di Amerika Serikat ada hampir 11 juta orang bekerja untuk 1.2 juta NGO.

Ada beberapa contoh mitos yang dipercayai oleh banyak orang sehingga kurang berminat berkarir di NGO atau organisasi, antara lain:

1. Tidak digaji atau bergaji rendah

Fakta: Walaupun pada umumnya NGO menawarkan gaji dan benefit awal lebih rendah daripada di perusahaan profit, namun sebagian NGO menawarkan gaji dan benefit yang sebanding bahkan lebih tinggi dari organisasi lain.

2. Tidak ada kemajuan karir

Fakta: NGO yang kecil mungkin tidak memiliki banyak ruang untuk kemajuan, namun organisasi yang lebih besar memiliki tingkatan karir yang jelas. Seringkali karyawan di NGO menjalankan banyak fungsi, memiliki banyak pengalaman, dan menerima tanggung jawab yang lebih besar dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan pada sektor profit sehingga mereka lebih cepat ‘matang’.

3. Kesempatan hanya berlaku bagi jurusan ilmu sosial.

Fakta: NGO memiliki peluang di bidang yang luas. Mereka memerlukan orang-orang dari berbagai jurusan dari akunting, komputer, kedokteran, kesehatan masyarakat, teknik, pertanian, psikologi, dll. Hampir semua jurusan memiliki tempat di NGO.

4. Orang yang bekerja di NGO memiliki teknologi yang ketinggalan, fasilitas yang kurang, atau berpakaian tidak rapi.

Fakta: Banyak NGO memiliki teknologi terbaru termasuk komputer, mesin fax, website yang dirancang dengan sangat baik. Seperti halnya semua bisnis, NGO sangat bervariasi dalam fasilitasnya.

5. NGO hanya untuk kaum liberal.

Fakta: Cakupan NGO sangat luas, mulai dari organisasi kesehatan, politik hingga agama.


Bagaimana mencari pekerjaan di NGO?

Dalam beberapa hal perekrutan untuk NGO berbeda dari organisasi profit. Biasanya NGO melakukan perekrutan hanya karena adanya kebutuhan, tidak ada ‘musim’ untuk perekrutan. Seringkali NGO merekrut hanya satu orang pada suatu saat dan bukannya merekrut seluruh “kelas” karyawan baru. Untuk organisasi kecil yang tidak memiliki dana yang besar untuk kegiatan perekrutan, mereka mungkin merekrut melalui mulut ke mulut atau melalui orang yang mereka kenal dari internal, orang-orang lapangan dan relawan. Untuk organisasi yang besar dan memiliki keuangan yang cukup banyak, mereka dapat mengumumkan melalui koran dan internet untuk memastikan mendapatkan kandidat yang berkualitas.


Kualifikasi yang dibutuhkan untuk pekerjaan di NGO (dan badan PBB)

  • Kesabaran
  • Pemahaman budaya
  • Kemampuan beradaptasi
  • Komitment kepada suatu isu
  • Kesiapan berhadapan dengan pukulan
  • Ketabahan dan ketetapan hati
  • Kemampuan bahasa
  • Diplomasi
  • Taktis/teknis

Keahlian khusus yang sering dibutuhkan oleh NGO (dan badan PBB)

  • Pencarian dana (fundraising) dan penulisan proposal
  • Teknikal – spesialisasi teknik (air, energi, dll)
  • Kesehatan – kesehatan masyarakat/dokter/perawat
  • Pelatihan resmi
  • Keuangan/akunting
  • Humas/komunikasi/media
  • Keahlian pengembangan ekonomi
  • Managemen (admin umum/proyek/logistik)

Perbandingan lingkungan antara badan PBB dan NGO

Pengalaman di badan PBB

Banyak badan PBB, khususnya di tingkat kantor pusat di New York dan Geneva, sangat birokratis sehingga kemajuan karir menjadi lambat. Ada banyak pekerjaan di PBB dan badan-badannya berupa kontrak jangka pendek dan tidak diiklankan. Apabila anda telah masuk ke salah satu institusi itu, yaitu dengan bekerja kontrak pendek, maka akan menjadi lebih mudah untuk membuktikan diri dan mendengar tentang peluang lain di dalam sistem.

Karyawan di badan-badan PBB dibayar dengan sangat baik. Keuntungan lain berupa status bebas pajak dan tunjangan pendidikan untuk anak dan tunjangan perjalanan yang sangat menarik. Karena benefit di PBB sudah baik, sering sekali sulit menemukan benefit yang setara di sektor swasta.

Ada banyak perpindahan staf di antara sesama badan PBB dan kondisi sering berpindah tempat kerja ini menjadi tantangan utama untuk keluarga. Beberapa pengalaman kerja di badan PBB memang baik, namun karena terlalu banyak menghabiskan waktu dengan PBB, kita bisa menjadi “out of touch” dengan dunia nyata.


Pengalaman NGO

Sebagian orang mengatakan bahwa lebih baik masuk ke sebuah NGO kecil terlebih dahulu di dalam negeri untuk mendapatkan posisi yang membuat anda melakukan sangat banyak pekerjaan yang kecil-kecil dan mempelajari banyak keahlian. Saat mencari pekerjaan di NGO, “ikutilah uang/follow the money.”  Bila terjadi bencana (mis: tsunami) atau krisis (mis Thailand, Darfur, Jogja, Padang), biasanya akan ada banyak kegiatan dan akan ada pekerjaan untuk para pekerja NGO. Anda harus berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat. Baik PBB dan NGO suka melihat pengalaman lapangan beberapa tahun di CV para pelamarnya.


Website yang direkomendasikan untuk mencari kerja di NGO/PBB:

www.reliefweb.org – Di sini semua professional dapat memperoleh informasi terkini tentang lowongan pekerjaan di seluruh dunia.

www.fdncenter.org – Kita dapat melihat semua jenis informasi tentang pendanaan, sumbangan untuk proyek di seluruh dunia. Sangat bagus untuk “following the money.”

devjobsindo@yahoogroups.com – untuk lowongan pekerjaan NGO di Indonesia.


IX. PENUTUP

NGO menjalankan berbagai peran di masyarakat kita dan hampir tidak ada area yang tidak tersentuh oleh NGO, apakah itu sumber daya alam, keuangan, pengembangan sosisal, HAM, kebudayaan, pendidikan dan energi. NGO telah memainkan peranan yang efektif dalam merubah skenario dunia saat ini baik dengan menetapkan agenda atau dengan mendesak pemerintah untuk melakukan sesuatu yang mereka perlukan.


Jika anda memiliki perasan yang kuat terhadap beberapa isu spesifik dan ingin membuat perbedaan di area tersebut, jika anda memiliki inisiatif dan integritas, inilah bidang yang sesuai untuk anda tekuni.

Kesempatannya luar biasa saat ini dan bertambah setiap hari. Apakah anda berencana membuka sebuah NGO, menyediakan dana untuk NGO atau bekerja di sebuah NGO, keterlibatan anda akan sangat dihargai.

Setiap NGO memiliki visi dan misi masing-masing, yang mungkin mirip atau bahkan berbeda sama sekali. Kita dapat mencari atau melihat visi dan misi mereka di website atau media lain yang tersedia dan memilih yang sesuai dengan visi dan misi pribadi kita.


Selamat mengerjakan misi!

Posted in NGO | 7 Comments »